
Pendidik yang gemar menulis, menyunting, dan menjadi reviewer buku. Kadang menjadi narasumber seminar pendidikan dan penulisan buku/ PTK. Kunjungi blog pribadi http://johanwahyudi.info/, HP 08562517895, dan email jwah1972@gmail.com.
Dibaca: 197
Komentar: 89
4 dari 11 Kompasianer menilai inspiratif
Kompasianer Solo benar-benar terlihat rukun dalam semangat gotong-royong yang sangat kental.
Maaf teman-teman, saya menuliskan ini karena terinspirasi dari kolom Teraktual. Pada awal saya membuka kompasiana tadi, saya membaca sekitar lima tulisan yang berisi tentang keluhan dan juga bantahan tentang kompasiana. Jujur saja, saya agak tersinggung dengan beragam tulisan dan juga komentar yang ada. Ibarat sebuah keluarga, tentunya kita sudah terakrabkan oleh beragam perbedaan. Bukankah kita sering bertengkar dengan kakak atau adik? Bukankah kita pernah pula berbantahan dengan orang tua? Namun, kondisi itu tetap terukunkan oleh sikap setiap individu. Atas kondisi itulah, ada baiknya kompasianer berkenan belajar kepada kompasianer wong Solo.
Hari ini (Minggu, 4 Desember 2011), Kota Solo memunyai hajatan besar. Tak lain adalah Solo Cyber Day. Acara itu digelar untuk memerkenalkan Solo kepada dunia maya sehingga nama Kota Solo makin mendunia. Atas ide itulah, saya mengapresiasi langkah Pak Walikota Solo, Pak Joko Widodo alias Pak Jokowi. Sosok pemimpin ini benar-benar memiliki jiwa revolusioner dan visioner. Masyarakat Solo pun menyambut antusias acara ini. Ribuan orang berjibun mem-browsing internet di Jalan Slamet Ryadi.
Saya tidak akan mengulas acara itu lebih lanjut. Saya hanya mengulas sebuah kejadian yang teramat membahagiakan banyak orang. Tak lain adalah kopi darat alias perjumpaan kompasianer Kota Solo. Sungguh acara itu benar-benar terselenggara dengan sangat apik dan meriah. Perjumpaan perdana yang melahirkan banyak inspirasi atas sebuah arti persahabatan dunia maya. Lho, kok bisa begitu?
Teman-teman perlu mengetahui bahwa kami, kompasianer Solo, jarang berjumpa langsung meskipun Kota Solo terbilang kecil. Kami disibukkan dengan beragam rutinitas sehingga kami belum sempat meluangkan waktu untuk kopadaran. Namun, hari ini, semua berubah total. Sekitar dua puluh orang kompasianer Kota Solo saling melepas rindu untuk saling bersapa secara nyata.
Saya benar-benar merasa bahagia karena kopdar perdana ini terlaksana sukses besar. Kami bergotong royong demi acara ini jauh-jauh hari. Saya dan Mbak Niken sering telpon-telponan demi agar kopdaran dapat terlaksana dengan segala hambatan yang mungkin terjadi. Demi itu pula, saya dan Mbak Niken sering berjibaku dengan pandai-pandainya kami untuk membagi waktu. Dan ternyata, sungguh hasilnya luar biasa.
Cobalah teman-teman tengok aktivitas dan kegotongroyongan kami. Mas Dimas melobi panitia agar kompasiana mendapatkan stan. Lalu, Mas Dimas menyiapkan spanduk yang berisi tentang profil kompasiana dan kompasianer. Mbak Niken menyiapkan piranti stan. Semua kebutuhan tamu disediakan secara rapi. Mas Bubup menyiapkan kaos yang berlogo kompasiana sebanyak 12 buah. Ada rekan lain yang menyumbang stiker, pin, rambutan, dan makan siang. Kami sama sekali tidak memedulikan pribadi penyumbang: apakah kompasianer ini pernah singgah ke lapakku, sudah menjadi temanku, atau malah pernah menjelek-jelekkanku? Semua kompasianer teramat berbahagia atas keberhasilan kopdar perdana.
Begitu banyak masalah yang diributkan di kompasiana. Sebagai media social, kompasiana dianggap sebagai sarana untuk menjatuhkan nama baik diri, profesi, kegemaran, dan lain-lain. Karena tidak berpalang pintu, hendaknya kita, sebagai tamu, tetap bersikap sopan sembari menjaga etika sebagai tamu. Ada atau tidak ada tuan rumah hendaknya kita tetap menjaga kerukunan demi kebaikan kita bersama. Kami, kompasianer wong Solo, berusaha menyuguhkan kedamaian itu karena kami memang mencintai kedamaian.
Perlu diketahui pula bahwa kopdar perdana ini akan berlanjut ke kopdar jilid dua. Menurut teman-teman kompasianer Solo, saya ditunjuk sebagai tuan rumah. Teman-teman kompasianer Solo ingin menggelar hajatan kopdar jilid dua di hutan jatiku. Wouw, sebuah keinginan yang teramat mengasyikkan. Bagiku, itu tak jadi soal. Silakan teman-teman mengadakan acara di mana teman-temann suka. Selagi saya masih bisa membantunya, dengan senang hati pula, saya dan istri akan memberikan layanan sekadar kemampuan kami sebagai wong ndeso. Melihat keakraban ini, tidakkah teman-teman ingin meniru kerukunan kami?
Saya siap menjadi tuan rumah untuk kopdar kompasianer Solo jilid dua di hutan jatiku.