Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Rico Mangiring Purba

Mantan aktivis mahasiswa di Lampung, pernah menekuni dunia jurnalistik sebagai reporter di beberapa media lokal selengkapnya

Andik Vs Beckham

REP | 01 December 2011 | 21:14 Dibaca: 310   Komentar: 3   1

“Siapakah Andik Vermansyah sampai seorang David Beckham harus menekel kakinya saat dia sedang menggiring bola? Ya, siapakah Andik Vermansyah?”

“Bukankah esensi hidup manusia adalah menciptakan sejarahnya sendiri,” begitu ucapan seorang teman saat saya kuliah. Soal bagaimana sejarah akan mencatat itu semua dikembalikan kepada kita. Dan tulisan saya tentang Andik ini adalah bagaimana saya ingin mengenang Andik, si anak Jember, ditekel Beckham.

Untuk kali keduanya, tulisan ini saya buat setelah menyaksikan pertandingan sepakbola (tulisan sebelumnya dibuat setelah pertandingan final Sea Games  antara Indonesia Vs Malaysia). Sebetulnya tulisan ini akan saya pos-kan sesaat setelah pertandingan antara Timnas Selection Vs LA Galaxy usai, namun lantaran listrik desa padam dan baterai komputer jinjing saya sekarat, tulisan ini urung saya pos-kan.

Ada hal yang menarik pada pertandingan antara Timnas Selection, yang diperkuat pemain muda dan senior Indonesia,  dengan LA Galaxy yang diperkuat megabintang lapangan hijau David Beckham semalam. Ketika pertandingan baru berjalan sekitar tujuh atau delapan menit, David Beckham menekel dengan keras seorang pemain muda Indonesia. Laki-laki bernomor punggung 21 yang roboh ditekel suami Victoria Adam itu adalah Andik Vermansyah.  Pemain muda yang juga memperkuat Timnas U-23 saat bertanding di final Sea Games.

Beckham, yang sudah memasuki usia senja untuk ukuran pemain bola, memang kewalahan saat meladeni Andik dengan sprintnya yang kencang itu. Bukan hanya Beckham, barisan pemain bertahan LA Galaxy pun beberapa kali dilewati Andik bermodal lari kencangnya itu.

Bahkan lebih dari itu, ketika peluit panjang ditiup wasit, Beckham pun menolak tawaran Okto dan Hamka, dua pemain Indonesia yang ingin bertukar kostum dengannya. Beckham lebih tertarik bertukar baju dengan Andik dengan alasan merasa tidak enak telah menekelnya dan mengakui Andik pemain yang bertalenta (dimuat di beberapa situs berita online).

Diakui sebagai pemain yang bertalenta oleh seorang bintang tentu bukan sekadar basa-basi saja. Ada apresiasi dan pengakuan bahwa memang Andik bukan pemain biasa-biasa saja dalam kalimat itu. Pengakuan pun dilontarkan sang pelatih LA Galaxy, Bruce Arena.

Pertanyaannya, mimpi apa Andik pada Selasa (29/11) malam sampai dia ditekel seorang Beckham? Mungkin saja Andik tidak bermimpi, dia tertidur pulas. Atau mungkin sebaliknya, Andik tidak tidur karena akan menghadapi pertandingan yang cukup bersejarah dalam karir sepakbolanya. Dalam hidupnya.  Dia akan bertanding dengan seorang atlit terkaya di dunia, atlit dengan segudang pengalaman yang tak perlu diragukan lagi, atlit yang pernah bergabung dengan beberapa klub elit di muka bumi ini (Manchester United, Real Madrid, AC Milan).

Namun, bukan itu yang akan saya bahas dalam tulisan kali ini. Andik dalam usianya yang masih sangat muda telah memberi inspirasi kepada kita. Betapa mimpi dan kerja keras itu ternyata haruslah berjalan sejalan. Pemuda asal Jawa Timur itu telah mencatatkan sejarahnya sendiri semalam. Dan mungkin akan lebih banyak lagi yang dicatatkan sejarah tentang Andik dengan usianya yang masih semenjana itu.

Belajar dari Andik, ternyata mimpi itu bisa mendarat dan tidak hanya terbang di alam khayal saja. Mimpi tidak hanya menjadi mimpi ketika ada upaya mewujudnyatakannya. Andik telah melakukannya. Mimpi itu diwujudnyatakan dengan tiap tetes peluh, berpuluh-puluh kilometer berlari, dan motivasi untuk berbuat lebih lagi. Dan Beckham telah membantunya.

Lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana kita ingin dicatat sejarah?

Tags: andik beckham

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 05:49

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | | 02 October 2014 | 04:32

Seandainya Semalam Ada Taufik Kiemas …

Hendi Setiawan | | 02 October 2014 | 07:27

[DAFTAR ONLINE] Kompasiana Nangkring bersama …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:36


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 4 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 4 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 6 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 8 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | 7 jam lalu

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Sahara Bisnis | 8 jam lalu

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | 8 jam lalu

Kampung Media, “Kompasiananya” …

Ahyar Rosyidi Ros | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: