Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Kang_insan

Kang Insan, begitulah saya biasa dipanggil... Reviewer Fiksi

Mengkritik dan Mengesei dalam Sastra

OPINI | 30 November 2011 | 01:42 Dibaca: 342   Komentar: 15   1

Ide tulisan ini sebenarnya sudah cukup lama. Tapi, selalu tertunda-tunda, maklumlah banyak yang mau dilakukan, banyak mau dikerjakan, banyak yang dipikirkan. Mungkin juga sebab ini, bukan sebuah prioritas. Mengapa? Ya, sebab tidak ada hubungannya dengan hajat hidup saya, hajat hidup keluarga saya, alias tidak ada penghasilannya. Hehehe. Ya, ya, sebagai manusia, yang pertama saya pikirkan tentu saja sesuatu yang berhubungan dengan hidup dulu, baru kemudian dengan kesenangan. Menulis, bagi saya, berhubungan dengan hidup sekaligus berhubungan dengan kesenangan. Tetapi, nanti saya bedakan, menulis sebagai pekerjaan dan menulis sebagai hobi. Sebagai pekerjaan, ya menulis berhubungan dengan hidup dan kehidupan, sebaliknya menulis sebagai hobi, ya menulis untuk kesenangan sebagai intermezo ketika kerja terasa sangat membebani.

Masih ingat tentang sastra instant?  Syukurlah masih ingat. Mudah-mudahan ingat bukan sebab sakit hati (boleh diberi tanda petik, boleh juga tidak, hehehe). Mudah-mudahan ingat dengan tullisan itu sebab tulisan itu cukup memberikan “keterkejutan” kita atas gejala yang muncul, yang kita sendiri ada dalam gejala tersebut. Tak apalah sedikit terkejut asal jangan banyak-banyak, bukan begitu Teman?

Dalam satu kesempatan saya sudah merespons tulisan sastra instant tersebut dan memberikan beberapa klarifikasi yang –menurut saya–dari sudut ilmu atau teori sastra kurang cukup tepat.

Secara sederhana, kalau berteori secara anak sekolah, berbicara prosa (modern) maka berbicara dua bentuk, yaitu fiksi dan nonfiksi. Karangan fiksi dulu seh pada zaman Belanda hingga tahun 70-an (mungkin) (di Indonesia) dibedakan menjadi tiga, yaitu cerpen, novel, dan roman. Hah? Apa pula beda novel dan roman? ya, dulu dibedakan, sekali lagi dulu. Nah, sekarang, novel dan roman ya sama saja. Apa bedanya kalau dulu? Roman itu jenis prosa yang menceritakan kehidupan tokoh utama secara keseluruhan dari kecil, besar, hingga mati. Dengan bahasa sederhana, pokoknya kalau jagoannya (tokoh utama) mati, ya itu roman. Tapi, kalau tidak mati, ya berarti itu novel.

Prosa yang nonfiksi berupa autobiografi, biografi, kritik dan esei. Apa itu kritik? Apa itu esei? Kritik adalah karangan yang mengulas karya sastra, menunjukkan kelebihan/keunggulannya, dan juga kekurangannya. Dalam kritik, karya sastra yang diulas dikutip baik seluruhnya atau bagian-bagiannya. Lalu, kutipan itu dibicarakan baik dari segi struktur maupun nonstrukturnya, misalnya, dari biografi pengarangnya, situasi sosial-politiknya yang melatarbelakanginya. Esei adalah karangan yang mengulas suatu topik tertentu tentang kesusastraan secara umum dibahas dari sudut pandang penulis esei sendiri.

Jadi, tulisan tentang sastra instant adalah sebuah esei sastra. Nah, kritik sastra yang seperti apa? Beberapa tulisan saya yang mengulas karya beberapa teman mungkin dapatlah disebut kritik sastra. hehehe.

Waallahu a’lam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Manusia Api …

Nanang Diyanto | | 19 September 2014 | 17:32

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Dicari: “Host” untuk …

Kompasiana | | 12 September 2014 | 16:01


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 17 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 20 jam lalu


HIGHLIGHT

Ini Dia ‘God Of Gamblers’ Dunia …

Djarwopapua | 7 jam lalu

Ahok, Sang Problem Solving …

Win Winarto | 7 jam lalu

Sudut Korner Senja Pelipur Lara …

Ishadi Ishak | 7 jam lalu

Rupiah Dipermainkan? …

Heno Bharata | 7 jam lalu

“Evan Dimas dan Paolo Sitanggang di Atas …

Leonardi | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: