Artikel

Catatan

Iskandar Zulkarnaen

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!

Petualang Mencari Keyboard Dock untuk iPad


REP | 15 November 2011 | 11:02 Dibaca: 259   Komentar: 24   1 dari 2 Kompasianer menilai menarik

Akhirnya dapat juga!

Setelah mencari ke seluruh penjuru negeri (lebaaay deh), akhirnya saya berhasil membeli satu unit papan tuts berpenyangga (keyboard dock) untuk iPad. Petualang mencari barang seharga enam ratusan ribu rupiah ini cukup melelahkan. Hampir semua toko resmi Apple di Jakarta saya jelajahi satu per satu. Toko penjualan perangkat PDA dan sejenisnya juga saya sambangi dengan sabar. Bahkan setiap kali saya lihat logo Apple atau casing iPad di sebuah toko, saya tidak segan-segan bertanya ke petugas di dalamnya, “Jual keyboard dock untuk iPad?”

Jawaban yang muncul cukup standar, “Udah gak ada stock. Adanya keyboard wireless.”

Proses pencarian ini bermuara di pameran komputer Indocomtech di JCC Senayan tempo hari. Hasilnya sama. Tidak ada satupun penjual resmi Apple atau penjual aksesoris yang berpameran menjual keyboard yang saya cari. Mereka hanya punya keyboard wireless dengan koneksi lewat bluetooth.

Terus-terang, barang yang saya cari cukup langka. Keyboard ini diproduksi bersamaan dengan peluncuran iPad versi pertama beberapa tahun lalu. Dan menurut para penjaga toko reseller Apple, barang itu sudah tidak diproduksi lagi. Ada juga yang bilang keyboard ini hanya cocok buat iPad versi pertama. Versi kedua tidak cocok karena bentuknya lebih tipis sehingga tidak bisa bersandar pada dudukan keyboard.

Saya juga tidak mengerti mengapa Apple memutuskan untuk menghentikan produksi aksesoris bagus baus ini. Bagi saya, keyboard dock penting untuk dimiliki karena cukup dengan mendudukkan iPad di atasnya, maka fungsi sabak ini langsung berubah menjadi sebuah komputer yang (menurut saya) sempurna, lengkap dengan layar sentuh canggih dan keyboard yang bisa dicopot saat tidak digunakan!

Maksud saya, iPad otomatis memiliki keyboard fisik yang tentu jauh (sekali lagi jauh) lebih nyaman digunakan untuk mengetik panjang (dan lebar) seperi saat saya membuat artikel ini. Sebenarnya tidak ada masalah dengan keyboard sentuh yang otomatis tayang begitu kita mau mulai mengetik di iPad. Sejak punya iPad, saya sudah terbiasa menggunakannya untuk mengetik sepuluh jari. Tapi naluri manusia tidak bisa dibohongi. Jemari ini tidak bisa dilepas dari kebiasaan lamanya, yaitu menari-nari di atas tombol-tombol fisik yang mengeluarkan suara khas tat-tit-tut tat-tit-tut.

Awalnya, saat membeli iPad akhir tahun lalu, saya sudah berniat untuk langsung membeli keyboard dock-nya. Tapi apa daya uang tak sampai. Kantong terlalu dangkal untuk menampung banyak uang, iPad-nya saja dibeli dengan modal cicilan (curcol nih, hehehe). Semua orang mafhum, Apple adalah produk eksklusif yang harga barangnya, termasuk aksesoris-aksesorisnya mahal abis! Maka dalam banyak kesempatan saya selalu bilang ke teman-teman, Apple akan selalu menjadi standar dalam hal kualitas perkembangan teknologi informasi, tapi tidak akan menjadi pemimpin pasar. Karena secara umum pasar gadget, komputer dan sejenisnya, lebih butuh barang yang terjangkau daripada yang (super) canggih!

Sebenarnya Apple punya keyboard pengganti yang (menurutnya) lebih canggih dari keyboard dock, yaitu keyboard wireless dengan koneksi bluetooth. Keyboard ini awalnya dibuat untuk melengkapi iMac (desktop all in one yang pernah saya cicipi kehebatannya), tapi belakangan juga diproduksi untuk melengkapi aksesoris iPad. Mungkin keyboard nirkabel lebih canggih, tapi tidak lebih enak dipakai. Kalau saya beli yang tanpa kabel itu, pertanyaan pertama yang akan muncul, mau ditaruh di mana iPadnya? Disandarkan ke tembok atau dibiarkan terbaring di atas meja? Saya kira lucu beli keyboard tanpa sandaran!

Lagi pula, saya pernah mencoba keyboard wireless, hasilnya kurang responsif. Belum lagi kita masih harus mengeluarkan budget untuk baterai keyboard. Beberapa review yang saya baca merekomendasikan keyboard nirkabel untuk kegiatan mobile, sedangkan keyboard dock untuk digunakan di rumah atau kantor. Itu ada benarnya, tapi saya lebih memilih untuk terlebih dahulu memiliki versi dock-nya baru kemudian yang wireless (kalau memang dibutuhkan dan kalau ada rejekinya :) ).

Sampai awal Agustus kemarin, saya masih menemukan barang ini. Tapi waktu itu situasi dan kondisi (kantong) tidak mendukung. Lalu sejak Oktober lalu, saya mulai mencari-cari lagi barang ini ke mana-mana, dan tidak pernah menemukannya–mirip seperti Ayu Ting Ting yang mencari alamat palsu :D

Duh! Saya akhirnya sampai pada keputusan untuk berputus asa mencarinya. Pencarian lewat dunia maya pun buntu. Ada beberapa penjual keyboard dock yang menjajakan barangnya di blog dan forum online, tapi setelah saya hubungi jawabannya sama dengan para penjaga toko tadi: Habis, tidak ada stock!

Misi pencarian pun dihentikan. Selesai. Tanpa hasil.

Lalu kemarin malam, usai memberikan pelatihan blog di hari pertama di Hotel Enhai Bandung, saya mampir ke gerai EMAX di BIP Bandung. Saya sengaja mampir setelah melihat logo toko itu besar-besar dari balik kaca mobil. Dan begitu menanyakan pertanyaan yang sama, penjaga toko memperlihatkan sebuah keyboard yang sudah saya cari berabad-abad lamanya (lebaaay lagi). Tanpa ba-bi-bu, saya langsung membelinya. Kalau tidak, bisa jadi saya harus kembali gigit jari karena barang di toko itu satu-satunya yang tersisa!

#legarasanya
JET

1321329713650566184

Sejam setelah berhasil memilikinya… :)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: