
F1, Kimi Raikkonen, McLaren Mercedes, MotoGP,Tekno, Gadget, Media Sosial, Google Plus, Twitter, di kompasiana.com dan kompas.com. Visit: http://sociogeeks.blogspot.com/
Dibaca: 320
Komentar: 29
3 dari 4 Kompasianer menilai inspiratif
Mbak Melanie Subono berfoto bersama Matahari Timoer
Ah ….. ternyata masih ada yang peduli. Ternyata ada anak negeri ini yang mau berbuat sesuatu untuk menolong saudara mereka yang kekurangan. Ternyata ada yang mau mengorbankan begitu banyak waktu, tenaga dan harta yang mereka miliki untuk membantu anak-anak Papua yang ingin belajar. Ternyata mereka tidak hanya berkata-kata, mereka melakukan tindakan nyata.
Beberapa waktu yang lalu saya mendaftar untuk menjadi volunteer mengumpulkan buku hibah dari teman-teman Blogger untuk kemudian dikirimkan ke seorang teman blogger yang kini tengah mengikuti Program Indonesia Mengajar di Papua, tepatnya SDN Tarak, Distrik Karas, Fakfak, Papua Barat. Setelah beberapa waktu tidak ada satupun yang mengirimkan buku ke alamat saya. Hal ini memaksa saya untuk berinovasi guna mendapatkan buku hibah tersebut.
Ceritanya saya berkenalan dengan Mbak Melanie Subono di Twitter. Seperti sudah saya tulis di artikel sebelumnya, saya memang suka mengulik angka-angka statistik media sosial, terutama Twitter dan Facebook. Singkat cerita saya menjadi follower Mbak Melanie dan sering berinteraksi dengannya, baik melalui kicauan di Twitter, pesan langsung di Twitter, maupuan pesan singkat melalui ponsel.
Suatu hari melalui pesan di Twitter saya mengabarkan kepada Mbak Melanie mengenai program Blogger Hibah Sejuta Buku Tahap Kedua. Progran tahap kedua ini akan mengumpulkan buku hibah dari teman-teman blogger untuk kemudian dikirimkan ke Fakfak Papua Barat. Dalam pesan saya saya sampaikan bahwa saya akan sangat senang sekali bila Mbak Melanie turut berkontribusi dalam kegiatan ini. Alhamdulillah Mbak Melanie menyanggupinya dan akan menyediakan waktunya untuk mengumpulkan buku-buku miliknya dan milik teman-temannya.
Beberapa waktu kemudian, Mbak Melanie mengirimkan kabar kepada saya bahwa ia berhasil mengumpulkan 600 lebih buku untuk dihibahkan. Betapa senangnya menerima kabar tersebut. Lalu ia meminta alamat untuk pengiriman yang kemudian saya berikan. Namun sebagai seorang selebriti tentu waktunya sangat sedikit untuk mengurus hal demikian, makanya saya tawarkan untuk mengambil buku-buku tersebut ke Jakarta. Lagi pula biaya pengirimannya ke Bogor akan sangat mahal. Namun mbak Melanie mengatakan buku tersebut telah ia masukkan ke beberapa kardus dan telah di-packing siap untuk dikirimkan. Kalau sudah begitu saya terpaksa menyerah.
Dua hari yang lalu Mbak Melanie mengirim SMS kepada saya bahwa ia ada acara di sebuah radio di Bogor. Ia bertanya apakah lokasi saya jauh dari stasiun radio tersebut. Saya mengatakan cukup jauh. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menemui Mbak Melanie di stasiun radio tersebut dan serah terima hibah buku dapat dilakukan di sana. Mbak Melanie sepakat.
Tentu saja saya tidak bisa sendirian ke stasiun radio karena selain cukup jauh dan harus naik angkutan kota beberap kali. Saya kemudian mengontak seorang blogger senior dan menjadi panutan banyak blogger pemula, yaitu Kang Matahari Timoer. Pagi-pagi sekali saya sudah berangkat dari rumah. Tugas pertama adalah mengantar anak ke sekolah. Setelah itu ada urusan bank yang harus diselesaikan. Saya mengirim sms ke Kang MT untuk bertemu pukul 08.30 di Bale Binarum dan kami pun bertemu di sana. Setelah berbincang sebentar, saya dan Kang MT berangkat menuju Stasiun Radio KISI FM. Kami tidak bisa melalui jalan protokol karena ketiadaan helm sehingga harus melalui jalan tikus yang bebas dari polisi.
Tidak butuh waktu lama, kami sampai di stasiun radio tersebut. Saya mengirimkan sms ke Mbak Melanie, ternyata beliau masih di tol. Ia memberikan upadate bahwa jumlah buku yang dihibahkan kurang lebih 900 buku. Ia membawa serta buku tersebut di mobilnya. Tidak lama kemudian akhirnya Mbak Melanie datang juga. Setelah berkenalan ia memperlihatkan 8 kardus besar dan sedang yang berisi buku. Saya kaget dan berpikir bagaimana membawa buku ini sementara saya sendiri tidak memiliki kendaraan.
Setelah mengobrol sebentar, akhirnya diputuskan untuk sementara menitipkan buku tersebut di stasiun radio. Namun satpam stasiun radio tersebut tidak mau terlalu lama buku-buku itu berada di sana. Akhirnya dengan masukan Kang MT diputuskan saya mencari angkutan kota yang bisa di-carter. Seketika hendak berangkat mencari angkuta kota, Mbak Melanie ingin membeli sesuatu yang khas Bogor. Namun sopir mbak Melanie tidak paham jalan di Bogor. Akhirnya sopir tersebut meminta saya untuk menjadi guide. Tentu saja saya bersedia, namun masalahnya saya harus membawa buku hibah terlebih dahulu, sedangkan mbak Melanie menginginkan jam 11.00 harus sudah kembali. Setelah berdiskusi sebentar diputuskan, buku yang sudah dibongkar dari mobil dimasukkan lagi. Saya akan mengantar sopir mencari pesanan Mbak Melanie dan setelah itu kalau ada waktu buku tersebut akan diantar ke rumah saya.
Saya dan sopir mencari barang yang dipesan terlebih dahulu. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk mendapatkannya. Ke pemilik toko saya menanyakan apakah saya bisa menitipkan barang untuk satu jam saja, namun pemilik toko sepertinya takut sekali dan langsung menolak. Karena tidak bisa menitipkan buku di toko tersebut, saya dan sopir menuju rumah, namun jam sudah menunjukkan pukul 10.40. Akhirnya di sebuah halte kosong, saya titipkan buku-buku hibah itu terlebih dahulu. Untungnya ada seorang pedagang makanan di sana dan saya berikan uang jasa beberapa ribu rupiah untuk menjaga buku tersebut. Kami kembali ke stasiun radio dan syukurlah sesampai di sana Mbak Melanie baru saja usai mengisi acara.
Saya tidak sempat lagi bertemu dengan Mbak Melanie untuk mengucapkan banyak terima kasih atas kontribusinya. Ia didatangi banyak fans yang menunggu di luar stasiun radio. Saya hanya bisa melihat dari jauh dan selanjutnya meneruskan perjalanan untuk membawa buku-buku tersebut pulang. Butuh tiga kali naik angkutan kota untuk sampai ke halte tempat saya menitipkan buku sebelumnya. Di angkutan kota yang terakhir saya katakan ke sopir agar mau saya carter untuk mengantar buku hibah untuk anak-anak Papua. Sebelumnya ia tidak mau dan memasang tarif yang cukup tinggi, namun saya katakan saya tidak punya uang banyak dan meminta jangan terlalu mahal tarifnya karena yang saya bawa bukan dagangan, namun buku untuk disumbangkan kepada anak-anak di Papua (ngeles).
Mungkin tersentuh atau mungkin karena melihat wajah saya yang berdebu dan capek, sang sopir akhirnya setuju. Saya dengan dibantu oleh pedagang yang tadi saya titipkan buku menaikkan buku ke mobil. Berat buku itu nauzubillah. Butuh dua orang dewasa untuk mengangkat satu kardus besar. Bagusnya buku-buku tersebut di-packing dengan sangat baik oleh Mbak Melanie sehingga tidak perlu khawatir kardusnya jebol. Tidak lama saya sampai di rumah dengan rasa haus tak tertahankan. Namun saya sangat puas, buku hibah Mbak Melanie akhirnya bisa sampai ke rumah saya walaupun dengan jalan yang cukup berliku. Kini tinggal memikirkan bagaimana buku tersebut dikirim ke Papua. Jika di antara pembaca yang sudi untuk membantu dari segi dana atau kerja sama, saya akan sangat senang sekali.
Terima kasih banyak Mbak Melanie Subono atas kontribusinya.
NB: Diceritakan sesuai dengan kejadian sebenarnya dan tidak bermaksud untuk ria dan narsis.
Foto:
Kardus Buku Hibah dari mbak Melanie Subono
Kang MT mencoba mengangkat salah satu kardus berisi buku
Buku hibah sebagian besar berupa buku pelajaran SD
Ada juga buku ensklopedia dan cerita anak