Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Hendri Bun

@hendribun. Hakka Nyin. Author '505 Game: Dinamika Kelompok, Aktivitas Luar dan Dalam Ruang untuk Membangun selengkapnya

Hukum Kekekalan Kebaikan

OPINI | 10 November 2011 | 06:07 Dibaca: 162   Komentar: 0   0


Sejenak kembali ke masa sekolah yuk. Dari sekian banyak mata pelajaran, ada satu yang tidak aku suka. Teman-teman tahu apa itu? FISIKA. Yahhh … selain karena dia bersifat eksata yang notebene banyak rumus dan perhitungan, juga disebabkan karena dulu guru yang ngajar itu tidak asyik orangnya. Guru itu dikit playboy, jadi baik dan ramahnya sama murid cewek aja. Sedangkan kita yang cowok-cowok, sedikit merasa tersingkirkan karena sering dianggap penggangu saja hehehe …

Dari sekian banyak rumus dan hukum fisika yang ada, satu hukum yang selalu nyantol di pikiranku adalah Hukum Kekekalan Energi. Secara bahasa ilmiah sih hukum ini berbunyi “Energi tidak dapat diciptakan dan juga tidak dapat dimusnahkan”. Tapi kalau mau disederhanakan, hukum ini mengatakan bahwa jumlah energi yang dikeluarkan adalah sama dengan jumlah energi yang dihasilkan. Jadi perubahan bentuk suatu energi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain tidak merubah jumlah atau besar energi secara keseluruhan. *Lhoo … perasaan bukannya tambah sederhana yah, malah tambah mumet hehehe …*

Pokoknya intinya begini deh. Kita ambil contoh saja: misalnya kita berteriak. Aktivitas teriak itu khan aktivitas mengeluarkan energi. Lantas bukan berarti energi yang kita keluarkan untuk teriak itu sia-sia atau hilang begitu saja, tetapi dia bertransformasi bentuk menjadi suara atau bunyi, yang jika diukur [entah gimana dan apa alat ukurnya] jumlah energi yang kita keluarkan untuk teriak sama dengan jumlah energi bunyi atau suara yang dihasilkan. *Masihkah bingung? Hehehe … semoga tidak yah :)*

Kejadian yang sama juga berlaku pada perubahan energi batu baterai menjadi terang sinar senter, tenaga drummer menggebuk drum setara dengan kencangnya bunyi drum yang dihasilkan, jumlah bensin yang dihabiskan sama dengan jarak tempuh sebuah kendaraan, hingga lampiasan emosi seseorang dalam bentuk bogem mentah setara dengan rasa sakit dari orang yang kena pukulan. Intinya: tidak ada yang hilang secara sia-sia atau percuma.

* * *

Kalau di dunia Fisika ada Hukum Kekekalan Energi [HKE], secara paralel sebenarnya dalam hidup ini ada sebuah hukum kehidupan juga yang dinamakan Hukum Kekekalan Kebaikan. Nah … apalagi barang baru itu?

Hukum Kekekalan Kebaikan [HKK] prinsipnya sama juga dengan HKE. Proses kerjanya juga sama, yaitu secuil perbuatan kebaikan yang pernah kita lakukan tidak akan berlalu dengan sia-sia juga. Dengan kata lain semakin sering kita melakukan kebaikan pada orang lain, maka jumlah kebaikan yang akan kita terima dari orang lain juga semakin banyak. Demikian juga sebaliknya.

Hanya bedanya dengan HKE adalah masa proses itu terjadi. Kalau HKE, perubahan energi yang terjadi seketika itu juga, sedangkan di HKK tidak terjadi secara instan. Jadi sangat jarang sekali misalnya kita hari ini menolong orang lain, hari itu juga atau besoknya kita langsung menerima buah dari kebaikan kita. Prosesnya sangat misterius dan kita tidak bisa menebak kapan itu terjadi.

Seumpama kalau memang kita terima saat itu juga, bersyukurlah, karena memang itu sudah jatah dan bagian kita. Tapi kalau emang belum waktunya, janganlah ngomel, kecewa, marah, trus akhirnya tidak mau berbuat kebaikan lagi. Semuanya berproses. Bukankah ada istilah: Segala sesuatu pasti indah pada waktunya?

Yang sering jadi masalah khan banyak yang tidak mau mengerti dan maunya seketika itu juga menuai hasilnya. Sebuah budaya yang akrab disebut budaya instan. Memang sih sikap ini tidak bisa disalahkan, karena itu adalah kodrat alami insani. Tapi di sinilah justru kualitas dan mental kita diuji, apakah kita adalah insan yang berkualitas hebat atau justru orang memble alias tahunya cuma protes demi kepentingan pribadi semata.

Satu hal yang kadang tidak disadari adalah sering kebaikan yang kita lakukan hari ini tidak kita terima balasannya, bahkan sampai kita meninggal pun kita tidak terima. Lantas ke mana aja hasilnya? Apakah itu berarti teori HKK ini gugur? Kalau iya, sia-sia dong kita berbuat kebaikan. Jawabannya TIDAK. Lho kok bisa? Iya … karena kerap semua kebaikan kita justru dinikmati keturunan kita alias anak-cucu kita.

Pernah ndak teman-teman kebingungan seperti ini, entah angin apa yang berhembus, tiba-tiba aja ada orang datang kepada kita, trus ngomong dulu kenal dan akrab sama ortu atau kakek kita, kemudian seperti mendapat duren runtuh –yang montong lagi– kebaikan itu datang begitu saja kepada kita. Nah, kalau sudah begitu apa yang bisa kita katakan?

Dalam ajaran agamaku, ada istilah Hukum Tabur-Tuai. Di sana dikatakan dengan jelas: Apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Kalau kita menabur kebaikan, maka kebaikan jugalah yang akan kita tuai. Dikatakan juga di sana, jumlah yang kita tuai tidak sama dengan jumlah yang kita tabur, tetapi sering lebih alias berlimpah. So … mungkin istilah yang dipakai harus diubah kali yah, jadinya Hukum Kelimpahan Kebaikan :)

Aku tidak tahu ajaran agama lain menyebutnya apa. Tapi yang aku tahu mungkin sama kali yah dengan hukum karma …

* * *

Kalau ada Hukum Kekekalan Kebaikan, berarti juga ada Hukum Kekekalan Kejahatan yah … Waaaa … jangan deh kena yang satu itu. Makanya, hidup ini harus selalu dipenuhi dengan kebaikan, biar dunia ini semakin indah, cinta bertumbuh, dan kasih bersemai dengan subur. Setuju khan???

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Dari Kompasianival: Strategi Ahok, Emil, dan …

Ninoy N Karundeng | | 23 November 2014 | 08:22

Urusan Utang dan Negara: Masih Gus Dur yang …

Abdul Muis Syam | | 23 November 2014 | 05:39

Akrobat Partai Politik Soal Kenaikan BBM …

Elde | | 22 November 2014 | 21:45

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Nangkring dan Blog Reportase Kispray: …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39


TRENDING ARTICLES

Selamat ke Pak Tjip, Elde dan Pakde Kartono …

Pakde Kartono | 4 jam lalu

Kesan-kesan Saya Ikuti Kompasianival 2014, …

Djarwopapua | 12 jam lalu

Catatan Kompasianival 2014: Aksi Untuk …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Duuuuuh, Jawaban Menteri iniā€¦ …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00


Subscribe and Follow Kompasiana: