Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Kencissagi

pribadi yang masih sangat perlu semangat dan belajar terutama dalam menulis

Ku Ingin Bersimpuh Dihadapan-Mu, Ya Allah

REP | 09 November 2011 | 13:55 Dibaca: 713   Komentar: 2   0

Minggu 6 Nopember 2011 tepat hari raya idul qurban tahun ini 1432 H. Setelah menyaksikan tayangan salah satu stasiun televise tentang sebuah film nasional yang mengisahkan keinginan kuat seorang emak yang ingin beribadah haji ke tanah suci yang berjudul “emak ingin naik haji” air mataku bercucuran mengalir dari kedua mataku. Aku sesenggukan sendiri dan perasaanku sedih bercampur aduk. Air mataku seakan banjir membasahi wajahku.

Seperti merefleksi kepada diriku. Sudah beberapa tahun aku menyampaikan kepada istriku kalau aku ingin sekali naik haji ke tanah suci mekah. Namun niatan itu belum kesampaian. Aku ingin sekali mendatangi seruan Allah. Aku ingin bersujud di pintu rumah-Nya di kabah Mekah Al-Mukaromah. Dalam sujudku aku ingin mengadu dan menumpahkan semuanya atas segala dosa kesalahan yang selama ini aku lakukan yang seandainya dosa kesalahan itu dapat dirupakan sebagai suatu materi dan ditimbang mungkin berat dosa-dosaku tidaklah kuat aku memikulnya. Aku ingin mohon ampun kepada-Nya. Aku ingin bersimpuh dan ingin aku tumpahkan semua air mata ini sampai habis di hadapan-Nya di baitull-Nya. Aku ingin mengadu kepada-Nya bahwa aku tak layak sebagai hamba-Nya karena tidak pernah dapat mensyukuri nikmat-Nya dengan iklas yang selama ini Dia limpahkan kepadaku tiada batasnya. Aku bukan orang yang bisa bersabar dalam menghadapi semua ujian dan cobaan dari-Nya. Aku bener-bener orang yang tak pandai bersyukur.

Ya Allah ampunilah hambamu ini. Ampunilah segala dosa dan kesalahan hamba baik yang besar maupun yang kecil, dosa hamba yang hamba perbuat yang langsung kepada makluk-Mu maupun yang tidak langsung, dosa yang terang diketahui orang lain maupun dosa, aib dan kesalahan yang hamba simpan hamba sembunyikan dari manusia lain. Ampunilah dosa dan kesalahan istri hamba, anak-anak cucu keturunan hamba, ibu bapak hamba yang telah mendahului menghadap kepada-Mu, ibu dan bapak mertua hamba, kakek nenek dan moyang hamba, dosa semua saudara hamba beserta seluruh keluarganya, dosa saudara kaum muslimin dan mukminin semua, kumpulkanllah semua orang yang hamba sebutkan dalam doa hamba ke dalam golongan yang Engkau ridhloi golongan yang Engkau selamatkan dunia dan akhirat golongan yang berkumpul menjadi satu dengan junjungan Nabi besar Muhammad SAW. Berikanlah kebaikan dunia berikanlah kebaikan akhirat dan jauhkanllah kami dari api neraka. Demikian tangisan doa yang aku ucapkan saat itu dan yang juga selalu aku panjatkan kepada-Nya di setiap kesempatan saat-saat bermunajat sembahyang kepada Allah.

Air mataku yang mengalir dari kedua belah mata ini belum bisa berhenti juga. Aku gak tahu cara tuk menghentikannya, sepertinya perasaanku telah hanyut ke dalam arus lamunan atas dosa dan kesalahan yang selama ini aku perbuat dan air mata ini tak bisa aku rem lagi. Untungnya aku lagi sendirian di depan televise. Karena malu kalau-kalau ketahuan anak dan istriku aku sedang nangis di depan televise aku pindah ke kamar dan kumatikan televisiku. Namun di atas kasur air mataku pun malah tumpah menjadi-jadi. Aku menutupkan bantal ke mukaku.

Ya Allah ingin sekali aku menghadap Engkau langsung. Agar seandainya Engkau murka dan berikan hukuman balasan atas dosa-dosaku aku akan terima meskipun aku tahu jiwa dan raga ini tak akan sanggup menerima hukuman dari-Mu. Agar tidak bersisa lagi semua kotoran-kotoran kebodohan yang selama ini aku lakukan, sehingga yang tertinggal kebersihan dan kesucian. Agar mampu menerima rahmat rohman dan rahim-Mu. Agar hanya tersisa kasih-Mu. Kasih dan cintaku kepada-Mu. Aku tahu dan sangat menyakini meskipun belum pernah aku merasakannya bahwa nikmat mencintai-Mu tiada tara rasanya di dunia ini. Rasa nikmat inderawi yang selama ini kurasakan di alam fana ini tiada sebanding apabila Engkau memberikan rahmat cinta-Mu. Tapi aku manusia kotor dan penuh dosa, apa mungkin Engkau memberkan rahmat cinta-Mu kepadaku ya Allah. Aku sangat berharap dan sangat menginginkannya ya Allah. Mudah-mudahan engkau mendengar doa hambamu ini dan mengabulkannya. Aamiin.

Hati ini bertambah perih manakala mengingat kondisi aku sekarang ini. Meskipun tidak kaya tapi aku juga tidak kekurangan. Seandainya saja aku sedikit memaksakan untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci dengan kemurahan rezeki yang Allah berikan selama ini bisa saja. Namun aku tidak bisa egois untuk mencukupi dan menuruti keinginanku sendiri. Masih ada istri dan kedua anaku yang juga memerlukan dan membutuhkan sebagian rezeki itu. Masih ada saudara-saudara dekat yang kondisi perekonomiannya sangat kekurangan yang tentunya masih memerlukan uluran tangan bantuan. Aku bingung dan selalu diliputi kebimbangan untuk memutuskan langkah yang harus aku ambil.

Ya Allah saat ini aku belum dapat memutuskan apa yang sebaiknya aku lakukan. Aku sangat berharap datang petunjuk-Mu sehingga aku dapat melangkah dengan tenang, mengerjakan hal benar yang di belakangnya tidak menyisakan beban yang memberati keluarga dan saudara-saudaraku.

Ya Allah aku tuangkan cerita ini dalam sebuah tulisan sekaligus sebagai panjatan doa kepada-Mu, semoga Engkau berkenan mengabulkannya. Aamiin Yaa robbal Aalamiin.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 3 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 6 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: