Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Kafi Kurnia

Kafi Kurnia memang tokoh kontroversial. Sejak tahun 1990, pemikirannya dikenal tajam, lugas, nakal, menggelitik tapi selengkapnya

Pangil Saya Tante Sekar

REP | 16 October 2011 | 09:32 Dibaca: 63514   Komentar: 2   3

Kami berkenalan di Facebook. Halaman Face Book-nya kelihatan disembunyikan agar terlihat misteri. Sesekali kami saling bertegur sapa. Chatting seadanya. Basa basi biasa. Tidak ada yang istimewa. Lalu tanpa sengaja kami ngobrol soal New York, karena kebetulan saya akan singgah di kota itu dalam perjalanan dinas saya ke Amerika. Ia mengajak saya minum teh sore hari di Bergdorf Goodman. Ketika saya tanya apakah ia tinggal di New York, ia hanya tertawa mengelak. Saat itu saya anggap hanya sebuah canda biasa.

Hari itu saya tiba di New York, menjelang tengah hari. Tiba di hotel, kamar saya belum siap, dan saya disuruh menunggu. Saya tidak sanggup menunggu. Bayangkan terbang selama 24 jam lebih dari Jakarta. Lelah yang saya rasakan ada disetiap ujung syaraf saya. Terpaksa saya menerima tawaran kamar yang sudah siap, walaupun harus membayar lebih. Petugas reception tersenyum ketika memberikan kunci kamar kepada saya. Buat saya itu senyum yang penuh ejekan. Tiba di kamar, saya langsung menyerbu kasur. Dan terbenam didalamnya. Dalam pikiran saya cuma ada satu kata : TIDUR !

Entah berapa jam saya tertidur. Rasa lapar juga yang akhirnya membangunkan diri saya. Ketika saya melirik arloji, hari hampir jam 3 sore waktu New York. Saya bergegas mandi. Lalu ingat janji dengan teman di Face Book. Department Store Bergdorf Goodman, adalah department store favorit saya di New York. Mereka punya sejarah panjang semenjak tahun 1928. Dan dilantai 7 mereka memiliki sebuah resto namanya BG. Setiap hari antara jam 3 hingga jam 5, mereka menyajikan hidangan Tea Time yang paling elegan dengan Dammann Frères Tea yang esklusif. Pemandangan dari restoran ini menghadap Central Park. Luar biasa sekali.

Pesan di Blackberry saya, menyebutkan kita akan bertemu jam 4 di resto BG, dilantai 7. Jam 4 lebih saya baru tiba di tempat. Maklum jarak Bergdorf Goodman dari haotel saya hampir 10 blok. Suara seorang wanita menyapa saya : “Panggil saya, Tante Sekar”, begitu ia memperkenalkan dirinya. Observasi saya, Tante Sekar usianya sudah diatas 60 tahun lebih. Walaupun wajahnya Nampak awet muda. Tante Sekar tidak memiliki tubuh tinggi bak seorang model, malah agak gemuk dan wajahnya biasa-biasa saja. Ketika kami bertemu Tante Sekar mengenakan setelan atas dan bawah berwarna ungu cerah. Dan juga tas Birkin Hermes berwarna ungu. Yang menarik adalah, biarpun secara fisik Tante Sekar tidak cantik, namun jelas-jelas Tante Sekar seorang pesolek ulung. Hal itu terlihat dari kuku tangannya yang terawat sangat rapi dan diberi perona cat kuku berwarna pink. Kontras dengan kostum Tante Sekar sore itu.

Awalnya kami cuma bicara seadanya. Basa basi tentang udara dan restoran di kota New York. Ketika saya bertanya apa bisnis Tante Sekar ? Tante Sekar hanya tertawa dan tiba-tiba saja pandangan matanya menerawang jauh. Tiba-tiba saja Tante Sekar lalu bercerita sekelumit kisah hidupnya. Tante Sekar lahir di kota Malang. Ayah ibunya sangat miskin. Sehingga ia akhirnya hidup bersama neneknya, dan membantu neneknya berjualan kue dipasar. Tante Sekar hanya sempat sekolah hingga kelas 4 SD. Ketika berumur 16 tahun, ia sudah dikawinkan dengan seorang saudagar terkenal dari Jakarta. Ketika menikah sang saudagar sudah berumur 50 tahun. Tante Sekar juga bukan dijadikan istri resmi, melainkan cuma istri simpanan. Tante Sekar tidak pernah tahu juga berapa jumlah isteri sesungguhnya dari suaminya. Menurut gossip lebih dari selusin.

Tante Sekar tidak menikah terlalu lama. Ketika ia berusia 24 tahun, suaminya meninggal dalam perjalanan bisnis di luar negeri. Sambil senyum-senyum, Tante Sekar berusaha mengingat kisah kasih perkawinan-nya yang pertama. Konon suaminya tidak meninggalkan harta yang banyak. Cuma sebuah rumah kecil dan sejumlah tabungan ala kadarnya. Tante Sekar bercerita untunglah suaminya itu mengajarkan satu ilmu yang paling berharga. Yaitu ilmu membahagiakan lelaki. Selama 8 tahun perkawinan-nya Tante Sekar belajar membuat suaminya senang dan bahagia, mulai dari kepala hingga ujung jempol kaki. Ia belajar memasak hingga seni bercinta dengan lelaki. Suaminya selalu mengatakan bahwa buat lelaki senakal dia dengan sejumlah isteri, maka tiap isteri harus bisa bersaing ketat membuat dia bahagia. Tanda-tanda seorang istri simpanan paling disayang dan berhasil memenangkan hati sang suami, adalah betapa sering ia dikunjungi suaminya. Semakin sering dikunjungi artinya semakin disayang.

Ajaran itu di yakini betul oleh Tante Sekar. Suaminya tidak pernah absen tiap minggu berkunjung ke Tante Sekar tiap minggu. “Kadang lebih”, kata Tante Sekar sambil tertawa kecil. Tante Sekar dibabak kehidupan berikutnya, berjuang keras menghidupi dirinya sendiri. Bebekal tabungan seadanya ia berusaha mencari uang dengan berbagai cara, dan menggunakan jaringan kawan-kawan almarhum suaminya. Ternyata tidaklah semudah ia bayangkan. Ia malah lebih banyak digoda oleh teman-teman suaminya. Mulai dari yang mengajak kawin, hingga yang cuma mengajak selingkuh ala kadarnya. Mulanya ia frustasi dan hampir mengambil jalan yang paling mudah yaitu menikah lagi. Entah bagaimana awalnya, Tante Sekar juga tidak ingat. Tapi Tante Sekar bertemu dengan sekelompok wanita yang semuanya janda. Mereka melakukan arisan sebulan sekali. Dalam bertukar cerita saat arisan, Tante Sekar, akhirnya mendapat pencerahan. Saat itulah ia mengubah garis kehidupan-nya.

Lirih, Tante Sekar mengatakan, dua hal yang ia pelajari dalam kehidupan ini; pertama begitu banyak sekali pria yang tidak bahagia dalam kehidupan ini. Dan yang kedua hampir semua pria tidak terpuaskan nafsunya. Maka ia memutuskan untuk menjadi “sosialita plus”. Begitu istilah Tante Sekar. Berkedok sebagai penjual permata, Tante Sekar akhirnya bergaul dipapan atas lingkaran social di Indonesia. Namun jualan sebenarnya, adalah merayu dan membuat puas, serta mambahagiakan lelaki-lelaki yang sangat kaya raya. Tante Sekar emoh disebut sebagai pelacur kelas atas. Tetapi lebih sebagai terapis kebahagian. Begitu kilahnya. Karena setiap lelaki yang menjadi kliennya semua memiliki hubungan emosi dan bukan hanya hubungan fisik belaka. Sebagai “sosialita plus”, Tante Sekar berusaha membekali dirinya dengan berbagai skills, termasuk bahasa, budaya, seni, music, dsbnya.

Diakhir pertemuan kami, Tante Sekar tidak bisa menyembunyikan kegelisahan hidupnya yang kini paling ia takuti. Tante Sekar kesepian. Dulu ketika ia sangat laris, ia tidak memikirkan untuk menikah, punya anak atau memunggut anak. Kini ia hidup beberapa bulan di Indonesia. Antara Jakarta dan Bali. Lalu beberapa bulan di New York. Dan sisanya ia jalani di Macau dan Shanghai. Tante Sekar ingin bertemu saya, barangkali semata-mata agar saya mau menulis cerita tentang dirinya. Kami memang berjanji untuk bertemu kembali di Indonesia, agar Tante Sekar mau cerita lebih banyak. Siapa tahu petualangan Tante Sekar bakalan asyik dibuat buku.

Sebagai bahan lamunan saya, Tante Sekar mengatakan, bahwa dirinya berfungsi untuk memuaskan nafsu lelaki, namun ia tidak pernah memanfaatkan nafsu lelaki. Pantangan hidup Tante Sekar, adalah menjadi wanita yang serakah untuk minta ini dan itu dari lelaki. Menurut Tante Sekar, setiap kali ia berhasil membahagiakan seorang lelaki, tidak pernah sekalipun lelaki itu mengecewakan dirinya. Tante Sekar selalu saja kebanjiran hadiah. Itu rahasia Tante Sekar bertahan sekian lama. Wanita yang tamak dan selalu ingin menguras harta lelaki, biasanya tidak akan bertahan lama. Hingga hari ini cerita itu masih menjadi bahan lamunan saya setiap hari. Menjelang malam kami berpisah. Kami berpelukan dan Tante Sekar mencium saya dipipi. Wangi parfumnya menjadi baying-bayang yang tidak mau pergi. Arrrggghhh !!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 7 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 11 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 10 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 11 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 11 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 13 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: