Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Bidan Care

Bidan Romana Tari [bidancare] Sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang selengkapnya

8 Stories Bidancare

OPINI | 16 September 2011 | 10:17 Dibaca: 742   Komentar: 58   10

Melihat  perkembangan jumlah bidan dari tahun - ke tahun di Indonesia, rasanya sangat menggembirakan. Jika menyaksikan wisuda adik adik bidan yang baru, rasa bangga dan haru memenuhi dada, duh barisan penyelamat para ibu dan perempuan bertambah lagi.

Semoga pasukan kesehatan bernama bidan ini semakin dapat berjabat tangan erat dengan sejawat bidan, membangun relasi harmonis dengan para dokter dan mitra kesehatan lainnya juga bergabung dalam Ikatan bidan Indonesia untuk membentuk formasi perlindungan kesehatan yang aman dan nyaman bagi ibu dan bayi yang dilayani.

Secara berkala bidan bidan yang sudah tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia mengadakan pertemuan bersama untuk membahas isu - isu terbaru di dunia kesehatan perempuan dan bayi.

Pertemuan itu seringkali juga menjadi ajang  “curhat ” bagi para bidan. Topik yang dibahas mulai dari pengalaman sehari hari juga diskusi  ilmiah topik topik terkini di dunia kebidanan.

Berikut sebagian  kisah  - kisah perjalanan  bidancare dan dengan tulus dibagikan untuk teman teman. Terutama bagi para orangtua yang mempunyai anak perempuan siapa tahu berminat menjadi bidan ( he he he..promosi sekolah bidan )

Belum jadi bidan menolong melahirkan kembar

Ketika itu saya masih SPK menjelang kelulusan.Kami ditugaskan ke daerah binaan di Air Sugihan Muba. Untuk membuat karya tulis sekaligus praktek lapangan. Suatu hari kakak senior pembimbing kami seorang mantri kesehatan sedang mengirim pasien ke Palembang. Salah satu perawat senior di situ sedang cuti. Tinggallah kami berenam siswa SPK.

Tengah malam datang ibu akan melahirkan diantar naik perahu. Wah ternyata hamil kembar,duh gimana ini. Teori sih kami sudah dapat tapi prakteknya belum boleh tanpa pendampingan. Mana bayinya kembar lagi!. Mau tidak di tolong bayinya udah nongol kepalanya sedikit.

UPPS…nggak ada jalan lain, akhirnya saya sambil berdoa memberanikan diri memimpin melahirkan kembar. Salah satu teman saya  yang membacakan  teorinya tentang menolong melahirkan bayi kembar berdiri  di samping saya. Teman lain memasang infus untuk mengantisipasi bila terjadi  perdarahan. Begitu pesan senior saya sebelum berangkat. Soalnya pasien di sini gisinya buruk.

Sementara itu diluar ruang bersalin keluarga pasien nyaris sekampung yang antar saking banyaknya suporter he he he, maklum di desa masih sangat erat hubungan kekeluargaan mereka.

Akhirnya Syukur kepada Allah dengan selamat bayi lahir walaupun kami  sempat gemetaran juga. Satu demi satu bayi lahir dan  letak kepala semua. Berat bayinya 1800 gram dan 2300 gram, kami hangatkan dengan selimut dan  diberi botol hangat  yang dibungkus handuk.

Ibunya sehat dan cuma jahit sedikit pada jalan lahirnya karena elastis sekali. Kami juga segera menyusukan bayi yang lebih besar tersebut ke ibunya agar mendapat ASI. Esoknya kami dapat hadiah coklat dari suster asrama. Kenangan ini tak akan pernah terlupakan walaupun saat ini aku berada diantara alat-  alat canggih untuk penanganan bayi prematur.

Tak ada es batu es lilinpun jadi

Hari itu giliran saya  tugas Posyandu. Tapi karena semalam diesel di klinik berkali kali mati, kulkas esnya mencair, tinggal beberapa bongkah kecil. Duh gimana ini. Kalau dibatalkan kasian ibu  - ibu yang sudah tunggu. Ketika  itu HP nggak ada jadi nggak bisa sms an  ke pak Lurah he he he.

Di asrama rupanya es juga lagi kosong, es batu di sini barang langka soalnya yang pake listrik  dan punya kulkas cuma asrama dan klinik kami. Waktu di perjalanan menyeberang jembatan. Pada saat menuruni jembatan temanku yang membawa tempat vaksin terpeleset dan meluncurlah es batu yang tinggal sedikit itu. Untungnya vaksin selamat karena dalam toples .

Mau bagaimana lagi namanya juga kecelakaan. Jarak tempat posyandu masih 8 km lagi. Untung ada penjual es lilin lewat, wah ini ajaib, biasanya jarang bisa ketemuan soalnya penjual es lilin juga langka he he he. Kami borong semua es lilinnya dan kami susun melingkar di dalam termos es lalu  toples berisi vaksin ditaruh di tengah, aman deh. Alhasil kami sampai di tempat posyandu agak telat dan kasihan  bayi bayi yang pada antri nunggu.

Mandi lumpur saat posyandu

Nah ini kejadiannya pas musim hujan, kalau ingat jadi senyum senyum sendiri. Waktu itu kami berangkat ke Posyandu semua harus bisa naik sepeda onthel. Repotnya pas kelompokku itu ada adik kelas yang nggak  trampil naik sepeda onthel. Mending kalau jalannya lurus dan mulus.Ini naik turun jembatan dan berlumpur licin. Kalau pas hujan malah sering sepedanya yang kami gendong he he he.

Apalagi kalau tanah lumpur lengket yang makin tebal di sepeda membuat roda nggak bisa muter. Suatu hari kami berangkat berdelapan  ke posyandu, begitu di persimpangan jalan kami berpisah pisah, ada yang ke jalur 6, jalur 5 dan jalur 4. Waktunya kembali ada teman kami yang belum muncul di persimpangan tempat kami janjian, Kami inisiatif menyusul.

Aduh kasihan teman kami yang nggak  trampil naik sepeda rupanya terpeleset masuk kubangan lumpur kakinya terkilir. Pulangnya hujan deras dan petir, kami berteduh di kuburan. sambil tertawa tawa lihat wajah temanku yang mandi hujan untuk membersihkan lumpur di badannya.

Mau cuci muka di mana nggak ada sumur, air rawa juga lagi kotor. Pengalaman ini sering muncul di ingatan saat saya  sekarang bisa menikmati naik ambulans seharga ratusan juta rupiah dengan segala fasilitas canggih dalam ambulans.

Surat cinta dari   suami  mantan pasien

Suatu hari ada pasien seorang ibu muda yang meninggal. Saya dan Komala temanku ditugaskan untuk memandikan jenasah dan mengantar ke rumahnya. Waktu itu mereka juga minta tolong aku merias wajah jenasah ibu itu.

Wah saya ada pelajaran memandikan jenasah tapi merias wajah jenasah?..mana pernah. Nah loo.. apalagi sudah diformalin begini. Saya  dan Komala nggak tega  untuk menolak, akhirnya kami bantu juga beri bedak dan lipstik..duh moga moga nggak tambah mengerikan nih hasilnya. Lha kami saja nggak pernah bermake up. Untunglah hasilnya tidak mengecewakan. Kami berdua  bernafas lega.

Tapi sebulan kemudian ada yang membuat nafasku nggak lega he he he.  Saya dapat  surat cinta dari suami pasien yang meninggal itu, duh deg deg kan karena takut untuk membacanya, akhirnya surat cinta itu kami serahkan ke suster kepala bangsal tempatku bertugas.

Suster menanyakan apa saya  suka dengan orang itu ? Saya  jawab tidak dan tidak kenal baik. Hanya  suami  mantan pasien. Lalu saya  jawab surat itu dengan dibimbing suster, agar bapak tersebut tidak tersinggung. Syukurlah saya tidak terima surat lagi walau sempat juga beberapa kali dicegat waktu pulang ke asrama.

Terpaksa saya  sering jalan memutar lewat pintu belakang agar tidak ketemu. he he he. Hingga suatu hari beberapa tahun kemudian saya tugas di klinik, saat  memanggil nama  pasien, datanglah seorang ibu cantik yang sedang hamil diantar oleh bapak yang pernah berkirim surat cinta itu he he he. Saya ikut bahagia dan menyalami mereka berdua.

Terjebak di atas speed boat

Hari itu saya  baru saja pulang dari mengirim pasien yang akan melahirkan dengan operasi Caesar ke Palembang, kami naik speed boat. Soal capeknya ya udah biasa, tapi yang paling penting pasien bisa selamat melahirkan. Waktu selesai merujuk pasien,pulangnya agak sore.

Suasana perairan sungai Musi terasa indah senja itu.  Ombak kecil - kecil dan burung burung beterbangan di antara kapal - kapal yang lewat. Apalagi menikmati sinar matahari sore hari  yang berwarna kuning kemerahan dengan latar belakan jembatan Ampera yang terkenal itu.

Tapi ternyata suasana nggak seindah waktu kami mulai memasuki daerah  perairan pasang surut, airnya tampak mulai surut, akar akar pohon bakau mulai makin jelas terlihat ..wah was was juga nih. Benar saja nggak berapa lama  speed boat kami dihadang segerombolan tanaman eceng gondok. Mau ambil jalur kiri airnya malah tampak makin surut.

Nggak ada jalan lain selain sabar…dan sabaaaar.menanti..he he he. Kami menikmati senja itu di atas speed boat, bercanda  dan makan nasi bekal yang kami bawa.

Untunglah nggak berapa lama eceng gondok itu menyingkir pelan pelan dan kami bisa lewat lagi karena air mulai pasang.  Malam hari kami tiba di asrama dan segera mandi , makan lalu belajar bersama, dan tidur bahkan termimpi -  mimpi terjebak eceng gondok  lagi he he he.

Mandi air  payau dari rawa

Jangan heran jika hingga sampai saat ini saya  paling sedih  melihat kran air dibiarkan mengalir  saat bak mandi sudah penuh. Ingat ingat waktu dulu  masih tugas di tempat transmigrasi pasang surut MUBA. Mau mandi saja harus antri dan di jatah seember. Sikat gigi nggak bisa berbuih karena pakai air payau. Jangan harap  rambut panjang nggak lepek dan bau he he he. Keramas aja sulitnya bukan main. Tapi kami tetap bahagia aja.

Suatu hari kemarau panjang, seluruh tandon air untuk mandi habis kecuali tandon air masak dan minum.Ya kami terpaksa menyaring air dari rawa. pagi itu libur , saya jalan -  jalan ke kebun dan menemukan aliran air rawa yang lumayan bening. Kami buat bendungan kecil dan di tampung dengan bak plastik. Dalamnya kami beri ijuk dan arang. Lalu dialirkan dengan pelepah pohon pisang ( debog ) dan selanjutnya kami saring lagi dengan kain (..ssst  mengorbankan selimut pantai kesayangan hadiah dari some one he he he ).

Jangan dibayangkan airnya mengalir  deras, airnya cuma mengalir pelan pelan. So what? nggak perlu pake stres nungguin, kami tinggal main voli he he he. Bergantian kami letakkan ember sambil ngecek penuh atau belum. Mau tahu cara mandi hemat, air dua ember bisa keramas? Tanya pada kami he he he.

Air payau kalau dipake mandi tuh nggak bisa berbuih banyak, dan sepet rasanya. Soal bau badan..tenang kami bawa  seperangkat penyegar tubuh saat berangkat tugas he he he.

Mencuri belimbing di asrama

Salah satu kenakalan anak asrama yang nggak baik ditiru…he he he. Kisahnya begini. Waktu itu kami sedang banyak ujian praktek di Rumah sakit, rasanya stres juga kalau dimarah senior  dan harus memperbaiki  karya tulis selama ujian praktek.

Nah di siang hari  seharusnya kami istirahat tidur. Tapi salah satu teman kami tiba tiba ada yang punya ide rujakan. Berhubung kami nggak ada hiburan lain untuk menhilangkan ketegangan selama ujian praktek, maka ide itu kami sambut dengan gembira.

Masalahnya dimana bisa dapat bahan rujakan? kecap kami ada, cabe tinggal petik depan asrama. Akhirnya kami mengendap endap ke kebun asrama, di sebelahnya bertetangga dengan biara para pastor. Di situ ada pohon belimbing yang  sudah jadi incaran, salah satu batangnya merunduk ke arah asrama kami. Apes tak dapat ditolak, malang tak dapat ditunda, tertangkaplah kami saat sedang mencuri belimbing.

Seorang pastor tua menghardik kami  turun, duh gemetaran kami semua turun dari pohon.Kami dipanggil ke biaranya dan diberi teguran. Dengan airmata  ” palsu ‘ Kami memohon mohon agar tidak dilaporkan ke suster asrama he he he.

Untunglah pastor tua itu tidak berniat melaporkan kami asalkan kami tidak mencuri lagi dan boleh minta kalau mau belimbing . Pulangnya kami diberi kedondong, jambu dan belimbing dari kebun mereka. Sttt..kisah yang ini jangan ditiru ya.

Bersahabat dengan dukun kampung.

Waktu bertugas di daerah Srimulyo kecamatan Sako Palembang , kami sering bersama sama dengan masyarakat setempat mengadakan pertemuan  dan membuat posyandu lansia,karena waktu itu di sana  belum ada posyandu Lansia.

Kedatangan kami semacam KKN dan tinggal di rumah penduduk. Banyak hal menarik yang kami temukan selama berada bersama mereka. Terutama berkembangnya mitos - mitos ditengah masyarakat  yang tentu saja sering menghambat perkembangan kesehatan.

Tempat kami bertugas ini tidak terpencil sekali tapi  tetap kami  minta Babinsa untuk  mengawal jika ke daerah rawan, selain sepi juga konon ada macan  yang sering nyasar ke kampung.

Suatu hari kami berniat mengadakan pertemuan dengan dukun kampung untuk pelatihan, setelah membicarakan dengan kepala desa dan pak Camat juga bidan di sana kami mendapat kesempatan untuk mengadakan pertemuan dengan beberapa dukun kampung.

Banyak hal menarik dalam pertemuan kami, selain bersilaturahmi dengan para dukun yang dituakan di kampung tersebut kami juga berbagi pengalaman dengan mereka. Memang sih banyak juga beberapa rekan bidan yang punya kisah  kurang membahagiakan dalam relasi dengan dukun kampung, tapi ternyata nggak semuanya begitu.

Dari para dukun kampung itu kami juga dapat  sharing soal kesabaran dan ketelatenan saat menolong melahirkan,suka duka dukun kampung.

Kami para bidan kami memberi refreshing kembali  tentang ketrampilan, kebersihan dan kapan harus merujuk ibu hamil  terutama untuk dukun terlatih yang sudah pernah ikut. Indahnya bersahabat dengan dukun kampung.

Semoga sebagian kecil  dari kisah kisah bunga rampai  perjalanan bidan  ini dapat memberi semangat dan inspirasi  bagi teman teman yang berminat menjadi bidan.Ada beberapa koleksi fotonya tapi ada  beberapa yang sudah hilang.

Salam Hangat

Bidan Romana Tari

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Live Streaming dan Selfie Berhadiah di …

Yayat | | 21 November 2014 | 20:43

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 13 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 13 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 15 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta yang Perlu Kamu Ketahui Mengenai Batu …

Ragil Wk | 8 jam lalu

Keputusan Wanita …

Ulum Sugarwo | 8 jam lalu

Lewat Tulisan, Guru Berbagi, Guru Memberi …

Meliya Indri | 8 jam lalu

Dicari Guru yang Bisa Menulis …

Dana Permana | 8 jam lalu

Sinergi BI – Koperasi, Kuatkan Stabilisasi …

Karina Lin | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: