Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Michael Sendow

Redaktur Majalah Infosulut. Writer. Trainer & Motivator. As long as you are still alive, you selengkapnya

Kisah Nyata Setan di Penginapan

REP | 11 September 2011 | 03:02 Dibaca: 20901   Komentar: 52   13


1315709828705361929

Setan Cantik. Ilustrasi: Emplooyschoop.com

Seiring dengan semakin semaraknya film-film horror di Indonesia, maka semakin mengokohkan kita sebagai produsen film hantu papan atas. Bioskop-bioskop di Indonesia mulai dari Jakarta sampai kota kecil, hampir semuanya dikuasai oleh film horror. Tak sedikit film yang mempertontonkan situasi di mana sebuah penginapan atau motel ternyata ada setannya. Bahwa ada kamar-kamar tertentu yang angker, dan ternyata ada penunggunya. Pokoknya menyeramkan. Suguhan menyeramkan itu nikmat bagi penonton rupanya. Makanya begitu digandrungi dan digemari.

Bukan hanya di Indonesia. Di Amerika juga ternyata tak lepas dari fenomena ini. Walau tak sebanyak di Indonesia, tetapi tetap masih banyak dijumpai bioskop-bioskop yang “hobby” memutar film-film horror. Ada beberapa bahkan yang memiliki label: Based on true story atau based on true event. Bayangkan ada film setan-setan yang based on true event?

Mengenai setan yang berdiam dan menjadi penunggu di hotel-hotel, motel dan penginapan belum bisa sepenuhnya saya terima. Saya paling tidak percaya ada hantu suka masuk hotel dan menginap di sana. Tempat mereka seharusnya kan di pekuburan? Atau tempat-tempat gelap lainnya? Banyak teman membantah, justru abad modern ini katanya setan tidak lagi berdiam diri di tempat sepi. Mereka memilih tempat-tempat ramai, mall, supermarket bahkan tak jarang mereka mencari mangsa di mesjid, gereja dan tempat-tempat ibadah. Sekiranya ada orang yang memiliki iman lemah dan siap dihasut atau dijadikan pengikutnya. Maka jadilan mereka pengikut setan. Wuiiiih….menyeramkan! Tapi Who knows?

Saya punya dua pengalaman nyata. Satunya di Amerika dan satunya lagi baru beberapa hari lalu di Manado. Issuenya sama: Setan di Penginapan.

Terus terang, saya paling doyan “meneliti” hal-hal yang menurut saya tak masuk akal dan sesuatu yang aneh. Saya juga suka yang unik dan menantang. Mengamati bintang, membaca cerita tentang UFO adalah sesuatu yang menantang dan membuka banyak wawasan saya.Nah, mencermati issue adanya setan di hotel atau penginapan tertentu merupakan tantangan tersendiri. Kembali merangsang syaraf-syaraf petualang saya.

Ada salah satu hotel di Manado yang megah dan berkelas (kalau tidak salah sudah five stars). Dibangun tepat di atas bekas sebuah rumah sakit terkenal, yang sekarang pindah ke Malalayang dan ganti nama. Hotel ini selalu menjadi tempat pilihan pertama para wisatawan asing. Tempat ini juga merupakan base-nya pejabat-pejabat dari Konsulat Amerika kalau berkunjung ke Bumi Nyiur Melambai ini.

Apa yang menarik dengan hotel ini? Waktu baru dibangun santer terdengar kabar bahwa banyak penampakan setan terlihat di hotel ini, karena itu katanya hampir tidak ada penduduk lokal yang mau menginap di situ. Mungkin karena dibangun di atas bekas rumah sakit, yang sudah barang tentu tidak sedikit orang menghembuskan nafas terakhir mereka di situ. Makanya ada yang bilang, karena merasa tergusur dan terganggu, arwah-arwah inipun gentayangan dalam hotel. Beberapa tahun lalu, belum lama setelah diresmikan, kawan akrab saya pernah bela-belain telpon saya ke Amerika cuma mau bilang bahwa ia beneran lihat setan di hotel itu. Saya tidak percaya. Mungkin setan memang ada, tapi tak semudah itu setan gentayangan mengusik penghuni hotel, buktinya sampai detik ini hotel itu tetap eksis dan maju. Kalau memang ada setannya, pastilah pengunjungnya turun drastis. Bakalan sepi pengunjung lalu bangkrut. Toh nyatanya hotel itu bahkan semakin melejit maju. Lalu kenapa?

Kerabat dekat saya bahkan mengatakan ketika lagi ada urusan pertemuan di hotel itu, ia yang lagi berjalan sama seorang staff hotel dan manager sebuah perusahaan, tiba-tiba di sebuah lorong yang agak memanjang menuju ruang pertemuan ada yang mencolek ketiga-tiganya sekaligus. Mereka saling pandang curiga siapa mencolek siapa. Tapi tiga-tiganya merasa telah dicolek seseorang atau oleh ‘sesuatu’. Siapa gerangan yang mencolek mereka? Tidak ada yang tahu!

Ada yang mengatakan kalau malam hari tiba, di sudut-sudut ruang tertentu sering terlihat bayangan-bayangan aneh. Kadang bunga bergerak sendiri. Kadang pintu tertutup sendiri. Pokoknya cerita-cerita aneh itu terus berkembang dari mulut ke mulut. Bagi saya pribadi keabsahan cerita-cerita itu musti diuji dulu kebenarannya. Jangan-jangan ini hanya untuk bermaksud menakut-nakuti pengunjung. Atau karena persaingan bisnis?

Pengalaman yang sama pernah saya alami di NJ, ketika itu ada teman yang kebetulan kerja di Holiday Inn di ujung Woodbridge Ave. Perbatasan dengan pintu-pintu toll menuju I-287, Rt1 dan NJ Turnpike. Katanya di penginapan ini banyak setannya. Kalau tugas malam hari, ia sering mendengar suara kran air bunyi. Bahkan pernah ada yang melihat seorang anak kecil di beberapa pintu lift. Setelah disusul, hilang entah kemana. Lenyap secara misterius. Dan masih banyak cerita lainnya. Sikap saya sama. Saya masih tidak percaya kalau tidak melihatnya. Saya paling suka membuktikannya sendiri.

Nah, beberapa hari yang lalu, itulah kesempatan saya membuktikan kebenaran cerita di hotel megah di Manado itu. Walau supervisor reservasinya saya kenal baik, kali ini saya ingin berkunjung tanpa diatur-atur. Tanpa diketahui teman-teman lain. Saya hanya pergi berdua dengan teman dekat yang memiliki hobby fotografi, mengingat kali-kali aja ada setan yang numpang narsis pengen difoto. Siapa tahu, iya nggak?

Saya dan teman saya memesan kamar paling ujung, paling sepi dan paling jelek (baca: paling murah). Sengaja tempat itu kami pilih dengan maksud kali-kali aja “beruntung” bertemu dengan setan-setan penunggu penginapan seperti yang orang-orang itu ceritakan, atau seperti yang terlihat di film-film horror itu. Tapi rupa-rupanya nasib kami belum “beruntung”, tak satupun setan yang nongol menyambangi kami di kamar kecil itu.

Kami tak putus asa, di malam kedua saya berusaha menjemput bola. Kalau setan penunggu hotel ini tak mau menemui kami di kamar ini (apa mungkin karena kamar ini terlalu murah di mata para setan kali ya?) maka biarlah kami yang mencari mereka di setiap pelosok hotel ini. Orang bilang karena hotel ini dibangun di atas rumah sakit, maka tempat ini pasti menjadi tempat nongkrong para setan. Tapi kalau benar tempat nongkrong, kok susah banget nyarinya ya?

Cari kiri-kanan, muter-muter selama 30 menit kok setannya nggak kelihatan juga. Lagi cutikah para setan yang selama ini digembar-gemborkan itu? Kami makin penasaran, dimana mereka sebenarnya sembunyi? Iseng-iseng saya bertanya ke seorang bapak-bapak berkumis yang lagi asyik baca koran di ruang tunggu hotel yang kelihatan cukup angker (jangan-jangan ini setannya yang nyamar? Oooh bukan!) tentang kebenaran cerita setan tersebut. Sekaligus saya tanya kalau benar hotel ini ada setannya, dimana saya bisa jumpai mereka? Dengan entengnya ia menjawab “Pak, nae jo di lantai atas, ada di situ dorang pe tampa!” (naik aja ke lantai atas, di situ mereka biasanya mangkal.)

Tanpa buang waktu, kami bergegas menuju lift, naik ke lantai atas. Saya minta teman saya siapkan kamera dengan resolusi tinggi, mudah-mudahan setannya bisa terekam jelas. Wah, begitu sampai di lantai yang kita tuju….suasana agak remang. Tempat apa ini, pikir kami. Belum selesai kami berpikir tiba-tiba dari sudut ruangan terlihat dua sosok berparas sangat pucat (putih), mulus, rambut panjang berbaju sexy. Jangan-jangan kuntilanaknya yang mendekat nih! Cukup berdebar hati kami. Akhirnya kami berhadap-hadapan langsung dengan setan sungguhan. Menakutkan sekaligus mempesona! Tiba-tiba mereka bersuara sangat lembut. “Asal mana om?” Haaaaaaa? Ada setan bisa ngomong? Tapi setelah diperhatikan lebih serius….. Ooooh ini toh rupanya setan yang dimaksud bapak berkumis tadi?  Selidik punya selidik ternyata di situ ada diskotik dan juga spa.

Hal yang sama itulah yang saya temui tempo hari di Holiday Inn NJ. Saking penasarannya dengan cerita teman-teman, saya akhirnya memuaskan rasa penasaran saya dengan menginap sehari semalam. Kebetulan juga ada grup teman-teman yang baru selesai perkunjungan dari Michigan, mengajak untuk nginap di situ. Klop sudah. Yang dari Michigan juga sangat antusias dengan keadaan Jersey.

Pagi hari saya tanyai petugas akan kebenaran cerita setan di hotel itu. Petugas menjawab ramah….”Di hotel kami ini aman pak. Semua cerita itu tidak benar, tapi kalau bapak memaksa dan benar-benar ingin ketemu setannya, kami bisa atur. Nanti malam saya antarkan, atau saya suruh teman saya mengantar bapak”.

Malam hari pun tiba, saya datang ke meja pendaftaran tadi. Saya sempat curiga dengan omongan staff tadi. Tiba-tiba seorang laki-laki mudah, entah siapa dia muncul dari ruangan sebelah. Ia tersenyum sembari berkata “Follow me sir!” Saya mengikuti langkah tegapnya menuju ruangan lain. Ia menyuruh saya menunggu di ruangan tersebut. Di situ terlihat seorang wanita cantik, hidung mancung. Kayaknya dari logat bicara, ia kemungkinan besar orang Italy. Saya duduk di sofa itu sambil membaca surat kabar New York Times. Baru dua kalimat yang saya baca, tiba-tiba tanpa basa-basi wanita itu menghampiri saya dan menawarkan dirinya sebagai teman tidur. Gila! Rupa-rupanya inilah setan yang dimaksud. Untung saya masih lebih takut setan yang ini dari pada setan beneran. Kabur adalah pilihan satu-satunya.

Dari beberapa pengalaman itulah, saya berkesimpulan bahwa bisa saja memang benar apa yang diceritakan, apa yang dirasakan dan apa yang disaksikan oleh orang-orang yang pernah melihat setan di tempat-tempat penginapan. Tapi juga, bisa jadi issue-issue seperti itu mungkin saja justru sengaja dihembuskan lawan bisnis dalam rangka persaingan bisnis, supaya hotel bersetan itu jadi menurun pengunjungnya. Kalaupun pengalaman setiap orang berbeda, berarti ada yang bisa melihat setannya dan ada yang tidak. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Tapi saya kemudian belajar, bahwa setan dapat muncul dan datang kapan saja dalam bentuk apa saja di dunia nyata ini. Tentu pengalaman saya juga mengajarkan hal itu. Bahwa ada setan-setan lain yang benar-benar nyata dan harus kita hadapi.

Hal lain yang justru juga harus diperhatikan adalah ungkapan-ungkapan penjaga dan staff hotel itu sendiri yang secara sadar mengakui dan mengatakan atau mengibaratkan setan itu dengan wanita panggilan atau wanita-wanita pemuas nafsu yang gentayangan di hotel-hotel besar pun penginapan-penginapan kecil. Setan-setan yang lebih menakutkan daripada setan-setan di film yang kita tonton atau cerita orang yang kita dengar. Sebab “setan” yang satu ini merusak akhlak secara kasat mata dan terlihat mata telanjang. Dapat merusak keluarga dan rumah tangga orang. Merusak citra hotel dan merusak peradaban serta budaya.

Setan di penginapan ternyata bukan cuma isapan jempol belaka. Ia memang ada. Keberadaannya bisa dalam berbagai bentuk. Yang tertinggal adalah bagaimana kita menyikapinya. Satu hal lagi, jangan menghadapinya dengan cara yang kesetanan. Bahaya!

Michael Sendow.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 11 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: