Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Muhammad Zaki

Jangan biarkan dirimu menderita dua penyakit. Pertama rabun membaca dan kedua lumpuh menulis. Ingatlah selalu selengkapnya

Ya Hayyu, Ya Qayyum, Birahmatika Astaghitsu (Renungan Pagi Hari)

OPINI | 20 August 2011 | 00:24 Dibaca: 2646   Komentar: 0   1

Assalamualaikum wahai insan sedunia, berbahagialah ketika kita masih diberi helaan nafas dipagi hari, rekaan mata menyambut mentari, melangkah lagi lalui hari. Bukankah hal tersebut merupakan sebuah anugerah terindah dari sang maha Agung?. Sepatutnya kita tahu bahwa oleh karena Nya kita masih bisa membuat hari sekarang menjadi semakin berarti, karena banyak dari hal yang telah dilalui kemarin menjadi bahan renungan untuk hari kedepan, dan sepantasnya pula kita selalu berpikir untuk memperbaikinya dihari ini. Seperti pepatah yang berkata jika hari ini kadarnya masih sama seperti hari-hari sebelumnya maka sesungguhnyalah kalian berada dalam kerugian.

Sesuatu rizki yang indah sekali ketika hati ini masih bisa merindukanmu, suatu hal yang indah sekali tangan ini masih bisa menggenggam dunia, suatu keindahan yang nyata sekali ketika mata ini masih bisa melihat semesta. dan dari semuanya tercipta rasa syukur yang begitu membahana kepadanya sang pemberi segala yang ada didunia. Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam semesta.


Mengawali pagi ini dirasa hati sangatlah berbeda dengan hari kemarin, karena dari hari kemarin terdapat banyak sesuatu hal yang merugikan, diantaranya dengan pembangkangan atas waktu, diisi dengan kekosongan, tidur berlebihan, dan bermain lantas lupa akan waktu. Barangkali hal tersebut haruslah menjadi bahan renunganku sejenak ketika hendak menunaikan shalat shubuh. Aku bermunajat kepada-Nya, perihal kekosongan ku dihari-hari sebelumnya agar menjadi batu loncatan penting untuk membangun hari ini dan kedepannya, biar kelak tidak akan ada waktu yang terbuang sia-sia tanpa hal yang bermanfaat.

Begitupun ketika hendak keluar melangkahkan kaki, dirasa sekali bahwa ke tidak inginan jejak yang sama terulang seperti hari kemarin, menjadi hal yang patut direnungi betapa kita berada dalam kerugian. Sungguh sesuatu anugerah yang tiada tara, ketika pemaknaan hari kemarin menjadi pembelajaran penting untuk hari-hari kelak, terucap rasa syukur sambil menghela nafas akan kenikmatan dari-Mu yang maha Agung. Aku tidak ingin menorehkan jejak pada satu tempat yang sama seperti hari kemarin, aku senantiasa berdoa pada-Mu agar selalu senantiasa diberi cahaya terang untuk menerangi setiap langkah kaki ini melangkah, dan memudahkan langkah untuk menjejakan kaki ditempat yang belum pernah terjamah oleh ku. Berilah jalan bagiku untuk senantiasa memperhatikan apa yang telah kau ciptakan di langit dan dibumi. Ya hayyu, ya qayyum, birahmatika astaghitsu.

Tak sampai disana, ternyata nikmat Tuhan masih terasa ketika hendak ku berjalan dari rumah Allah menuju altar tempatku berteduh. Aku melihat satu bintang terang yang indah mewarnai bumi, sinarnya mulai meredup seiring datangnya mentari. Begitu haru sekali hati ini, barangkali terbesit hati ingin berujar padanya “apakah engkau (wahai bintang), merasakan apa yang aku rasakan sekarang ini?. Merasa bersyukur masih diberi hari untuk menerangi bumi. Takjub sekali hati ini ketika dirasa begitu indahnya alam semesta, dan bahwa hanya dengan kedua bola mata kecil ini, kita bisa melihat langit yang terhampar luas diatas sana. {Maka, nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan.} (Ar-Rahman:13)

Sungguh nikmat dan anugerah yang indah sekali dari mu, ya Karim. Dari hendak ku menunaikan shalat shubuh ternyata Engkau masih menampakan cahayanya dari manapun itu, Engkau masih menyayangiku dengan menegurku akan kehidupan. Semoga apa yang telah aku renungi pagi ini, akan senantiasa membawaku selalu kepada jalan yang diridhoi oleh-Mu. وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (2:201, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: