Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Dwi

Iseng is my state of art

Percakapan

REP | 19 August 2011 | 22:56 Dibaca: 146   Komentar: 4   0

“Dik, telpon aku ya, aku kangen. Aku tunggu lho”, sebaris offline message dari teman lama yang lama tak jumpa, lama tak ngobrol karena jarak dan kesibukan masing-masing. Ku pencet-pencet HP memasukkan kode IDD. Terdengar nada sambung, tak lama kemudian ku dengar suara lembut sahabatku yang umurnya jauh di atasku. Ya memang jaman dahulu kala ketika aku masih remaja , aku lebih senang berkumpul dan berteman dengan orang-orang yang jauh lebih dewasa.Kami ngobrol layaknya dua teman yang lama tak jumpa, menanyakan kabar dan bertukar cerita. Tiba-tiba temanku, sebut saja Mbak Zul menghela napas panjang. Aku tanya kenapa, dia menjawab ” Dik, di sini aku punya banyak kenalan dosen Bahasa Inggris. dan tiap kali aku ngobrol dengan mereka, aku selalu teringat kamu. KENAPAAA?!! Kenapa kamu yang punya bakat dan kemampuan yang lumayan malah gak dapat kesempatan. Dan kenapa dulu waktu aku tawarkan beasiswa gak kamu ambil?” Aku diam sejenak mendengar celotehannya, aku berpikir, ah mungkin karena lagi hamil aja bawaannya emosional. Tak lama berselang,Mbak Zul meneruskan ” Maaf, Dik, bukan maksudku marah-marah gak jelas, aku cuma merasa dunia ini gak adil.” Aku tertawa, ” Mbak, mungkin sudah jalanku jadi TKW, aku gak papa kok. Walau bukan pekerjaan yang keren kedengarannya tapi aku enjoy. Bayangkan berapa banyak duit orang hamburkan untuk berlibur ke sini. Sedangkan aku, aku dapat libur tiap minggu, kerja sambil main. It’s not that bad, sister.” Beliau menyela, ” Iya tapi pernah gak membayangkan andai kamu dapat kesempatan belajar at least sampai S3 kaya aku, imagine where you would end up, what you could have done with your capabilities and you know that education is the right tool, don’t you?” Aku tertawa lagi lalu ku jawab, ‘ Mbak, yang namanya belajar kan gak selalu harus di kelas, gak harus melulu tentang gelar atau apapun itu, percayalah di mana pun, bagaimana pun aku tetap belajar, entah itu dari buku, entah itu dari mengamati perilaku. Di sini ada perpustakaan yang buka setiap waktu. Buku apapun tersedia, gratis untuk dipinjam” Sehabis percakapan itu tak elak aku berpikir dan berandai-andai, ya andai aku bisa sekolah tinggi, sudah jadi apakah aku sekarang? Ku tepuk jidatku sendiri sambil membatin ” inilah jalanmu, gak usah mikir yang muluk-muluk, jalani saja.”

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 5 jam lalu

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 9 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 9 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: