
Penulis adalah seorang istri, memiliki dengan dua malaikat kecil yang selalu menginspirasi, dan seorang yang berusaha mengabdi pada suami, keluarga, anak didik dan masyarakat
Dibaca: 88
Komentar: 4
Nihil
Tradisi Lebaran dengan pulkam atau pulang kampung pada satu sisi menyenangkan tetapi pada sisi yang berlainan menimbulkan satu permasalahan baru.Ya, masalah yang cukup membuat sebuah rumah tangga baik kecil atau besar cukup goyang. Yaitu masalah Pembantu Rumah Tangga . Atau masalah yang terkadang mampu menimbulkan “krisis”.Memang pada saat Hari H+2 Lebaran sampai mungkin satu-sepuluh hari setelah lebaran kemungkinan tidak masalah karena banyak “Inval(Pembantu yang bekerja sementara “). Tapi ini tentunya bagi yang mampu membayarnya, karena jelas tidak murah, bahkan terkadang tarif antara 60 ribu-70 ribu perhari. Belum lagi kalau kita mengambil dari yayasan atau penyalur tentunya akan dikenakan tambahan charge administrasi.
Satu sisi Tenaga Inval ini menjadi sebuah lahan bisnis tersendiri yang cukup menggiurkan. Tapi di sisi lain, para pengguna tidak ada jalan lain selain memanfaatkan mereka. Itupun belum berarti selesai, biasanya Para Pembantu Rumah Tangga kita yang mudik tersebut sesampai mereka di kampung halamannya, sering kemudian tidak kembali ke kita. Biasanya banyak tawaran-tawaran menarik di tempat lain entah dengan alasan bosan di tempat kerja lama, pingin tambah gaji, atau justru pingin mencari pekerjaan lain selain menjadi PRT. Inilah kecemasan-kecemasan yang sering mendera kita para pengguna jasa PRT.
Kecemasan -kecemasan tersebut terkadang membuat kita kesal yang kadang kadang kita tidak menyadari telah membuat’sebuah kasta sosial yang berbeda dengan kita”. Kita menganggap mereka adalah di bawah kita. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa banyak para PRT ini yang “berperilaku buruk” tapi sebetulnya masih begitu banyak pula PRT yang baik dan tulus. Semuanya memang kembali kepada personal masing-masing. Dan juga dengan sikap kita.Kita jelas merasakan betapa susahnya tanpa mereka apalagi bagi para keluarga yang suami istri bekerja, pembantu rumah tangga adalah betul betul sangat berguna bagi mereka. Yang jelas lebaran adalah moment yang luar biasa, siapapun berhak menikmati termasuk para ‘mbak-mbak kita’. Namun bukan berarti pula kita memperturutkan emosi kita seandainya para mbak mbak tadi tidak kembali ke kita. Yach mungkin ini menjadi bahan evaluasi kita untuk merevisi’kasta sosial tadi’ bahwa sebetulnya kita sama dengan mereka, hanya nasib yang tidak sama, sehingga kita bisa mengevaluasi kesalahan kita dalam memperlakukan mereka. Atau sebaliknya seandainya memang mereka yang bermasalah maka kita patut bersyukur bahwa kita terhindar dari itu semua…
(Teruntuk yang dag dig (sama dengan saya) menunggu kepulangan para mbak-mbak dari kampung sana ….