Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Jay Boana

http://genksukasuka.com

Belajar mengenal dan mempelajari karakter

REP | 18 August 2011 | 14:34 Dibaca: 800   Komentar: 1   0

Belajar mengenal dan mempelajari karakter orang

Seseorang yang sering kita kenal dan sering dekat akan mempermudah diri kira untuk membaca karakter orang itu, hal ini mungkin lebih mudah biasanya sebagai target utama adalah pacar.

Awal jatuh cinta adalah masa dalam fase pertama itu sudah hukum alam entah darimana memandang seseorang itu dan menilainya.

Hal yang sama saya rasakan saat ini mencintai dirinya yang saya anggap adalah sebagian dari jiwa saya yang kosong artinya dia adalah seseorang yang saya anggap mampu mengisi jiwa kesepianku dan mengisi kekosongan jiwaku. Dalam satu fase#

Kemudian tingkatan selanjutnya adalah mengenal lebih jauh dan terus akan dapatkan sebuah masalah dan kemudian terbiasa lalu bagaimana mencari solusi begitu dan selanjutnya.

Sampai akhirnya menyadari ada kekurangan dan kelebihan dari setiap fase yang sudah dijalani yang ditimbulkan adalah efek dan sebab akibat lalu bisa menerima dan tidaknya bisa menerima karena keegoisan.

Antara mengerti dan tidak bisa mengerti, dimana suatu peristiwa di dua dunia masing-masing memiliki kesibukan yang membuat rotasi waktu itu seakan mempengaruhi kebutuhan pertemuan cinta antara rindu, butuh , dan keinginan, kadang tak bisa dipikirkan dalam satu otak saja karena hal itu adalah rasa, dan rasa itu ada dua jadi harus ada dua persetujuan yang menyanggupi baru adanya pertemuan.

Bicara mengenali karakter seseorang saya sedikit mengeluhkan hal itu walau agak takut mengatakan jika saya mengatakan pacar saya begini pacar saya begitu, dalam hal sifat.

Sifat alias karakter itu baru ketahuan aslinya saat sudah menjalani bukan saat baru kenal yang dulunya jaim bisa berubah jadi zolim walah gak separah itu kali tapi bisa terjadi hal itu, walaupun saya katakana hal itu zolim dalam bahasa arab yang artinya adalah menyakiti kurang lebih yang identik dengan penganiayaan atau tidak mengenakan orang lain yah pokoke mah tidak mengindahkan orang lain seperti itu.

Disini masih bisa dianggap lebih ke wajaran saja karena ingin menunjukan kepada sisi kebaikan “yasudahlah” saya terima dia apa adanya dan saya mau terima dia segala-galanya itu kata dia secara teori adem rasanya mendengarkan kata itu.

Namun kenyataan tak selalu semulus jalan tol dan jalan tol saja kadang ada yang rusak sedikit, saya cerita sedikit masalah ini dalam kata curhat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Malmö di Swedia: “Saudara” …

Cahayahati (acjp) | | 26 October 2014 | 10:02

Kenapa Harus Membela Ahok? …

Zulfikar Akbar | | 26 October 2014 | 09:55

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Staf Kepresidenan, Kekuasaan di Balik Tahta …

Mas Isharyanto | | 26 October 2014 | 10:42

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24



HIGHLIGHT

Marquez Pecahkan Rekor Doohan …

Suko Waspodo | 7 jam lalu

Menanti Tweet Pertama Presiden Jokowi …

Dody Kasman | 8 jam lalu

Tentara yang Berjuang di Atas Kursi Roda …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Air Terjun Bojongkoneng di Sentul …

G T | 8 jam lalu

Merangkum Keindahan Indonesia Lewat Kisah …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: