Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Wahyu Dewanto

Anggota komunitas angkringan.

Berbuka Puasa dengan Hidangan Istimewa Kampung

REP | 15 August 2011 | 02:13 Dibaca: 53   Komentar: 0   0

Siapa yang tidak senang dengan buka bersama? Saya adalah salah satu orang yang menyenanginya. Bukan karena apa, tapi lebih untuk mempererat kebersamaan. Kebersamaan inilah yang pada nantinya akan memperkuat tali silaturahim. Sebuah upaya untuk membina hubungan yang harmonis antar pribadi. Tak terkecuali diantara kami, orang-orang yang sering bertemu dikarenakan satu keperluan, yakni membuat dokumen ekspor di bagian pelayanan Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Surakarta.

Pada Ramadhan tahun lalu, kami—orang-orang yang sering mengurus Certivicate of Origin berikut staff pelayanan Daglu Disperindagkop Kota Surakarta—berinisiatif berbuka bersama di salah satu rumah makan di Solo. Waktu yang dipilih adalah H-8. Karena keesokan harinya, kami praktis tidak lagi beraktifitas seperti biasa. Truk-truk kontainer yang menjadi lahan bisnis  kami—yang bekerja di bidang jasa ekspedisi muatan kapal laut (EMKL)—tidak diperbolehkan  menyusuri jalanan, karena menurut DLLAJ, mulai H-7 jalanan difokuskan untuk arus mudik.  Truk-truk sembako sebagai pengecualian.

Karena itulah, menjelang H-7 kebutuhan truk kontainer justru meningkat. Para eksportir
berusaha agar sepekan sebelum lebaran barang telah dikirim. Kantor kami yang bertindak
sebagai layanan jasa transportasi tentu saja telah mempersiapkan secara dini. Termasuk
membooking truk agar bisa stuffing tepat pada waktunya.

H-8 Ramadhan tahun lalu, kantor kami mendapat Shipping Instruction (SI) dari pelanggan kami
yang berkedudukan di Klaten. SI tersebut berisi permintaan agar kami menyediakan armada truk
kontainer 40 feet untuk keperluan stuffing jam tiga sore. Segera saja SI tersebut kami proses.

Untuk kasus tertentu saya sering mengawal truk. Seperti kasus yang terjadi pada truk
yang  akan digunakan di Klaten itu. Sopir yang berangkat atas orderku ternyata belum pernah ke
lokasi stuffing. Setidaknya saya akan mengawal dari pertigaan Kartasura hingga lokasi
stuffing di Klaten. Untuk itulah saya menunggunya di pertigaan Kartasura sekitar jam 3 sore.
Keadaan tidak lebih baik karena sopir tidak membawa hp. Itu akan menyulitkan koordinasi.
Terlebih mengetahui posisi truk sudah sampai dimana.

Jam 15.30,  di pertigaan Kartasura. Truk yang kupesan belum juga nampak. Berdasarkan info
yang saya peroleh, truk berwarna merah. Saya juga sudah mencatat nomor polisinya. Sedang
warna kontainer sudah bisa dipastikan juga berwarna merah, karena telah menjadi ciri khas
shipping line-nya. Tidak hanya itu. Nomor kontainer yang terpampang di lambung dan punggung
kontainer akan memudahan saya untuk menemukan truk jika melintas. Tapi hingga 1 jam
berselang, truk belum juga lewat. Akan sedikit mengurangi kegelisahan jika sopir truk
membawa hp-nya, sehingga saya bisa menanyakan dimana posisinya.

Jam 17.00 truk masih juga belum terlihat. Hal ini jelas membuat saya jengkel. Shipper sudah
berulang kali menanyakan. Tapi  jawaban saya masih sama: truk belum nampak. Saya maklum
shipper agak kurang senang dengan keterlambatan ini. Keterlambatan truk sama halnya dengan
memundurkan jam stuffing. Hal itu terkait dengan jam lembur karyawan bongkar muat di gudang.
Berarti dia juga akan pulang lebih malam hingga proses stuffing selesai. Saya menangkap nada
kecewa dari shipper. Tapi mungkinkah sopir menangkap nada kecewa saya terhadapnya. Bahkan
lewat jam lima sore, saya tidak mengetahui posisi sopir dimana. Yang sudah-sudah, biasanya
sopir datang di lokasi satu jam lebih awal. Tapi kali ini justru terlambat dua jam.Keterlaluan.

Jam 5 sore lebih 10 menit, setengah jam lagi acara buka bersama dengan teman-teman EMKL
tiba. Tapi truk masih juga belum nampak. Saya masih tetap menunggu dengan sedikit
menggerutu. Melalui pesan singkat, saya mendapat informasi jika teman-teman EMKL sebagian
sudah datang ke rumah makan tempat kami akan berbuka puasa bersama.

Hingga suatu ketika. Itu.Lihatlah! Truk warna merah. Dengan kontainer berwarna sama.
Sebentar. Nomor kontainernya sama dengan dalam catatanku. Ya benar. Itu dia truknya.

Sementara truk itu melintas, saya langsung menelepon shipper bahwa truk segera datang. Tidak
lama kemudian menyetater motor dan menyusul truk yang ternyata sudah jauh di depan saya.

Berkendara diantara mobil-mobil pribadi, bis antar provinsi, truk pasir, truk barang, pick
up dan juga sepeda motor lainnya. Tenang. Tak usah terburu-buru. Tak usah bermanuver yang tak perlu. Toh truk yang ditunggu sudah di depan mata.

Akhirnya saya bisa menyejajarkan posisi di sebelah kanan truk, tempat kemudi berada. Posisi
saya tepat di samping roda truk yang tingginya sedikit lebih tinggi dari saya ketika
mengendarai sepeda motor. Dari bawah saya berteriak bahwa saya akan mengantarkan hingga
tempat stuffing. Si sopir paham. Dan saya melaju lebih cepat di depan truk. Jalanan yang
ramai tidak bisa membuat truk bergerak dengan cepat. Saya harus menjaga jarak agar tidak
terlalu jauh dengan truk.

Sebagai orang yang lebih sering bekerja di luar ruangan, membuat saya harus bergerak cepat.
Bukan hanya cepat dalam mengambil keputusan, namun juga bergerak gesit untuk menyelesaikan
masalah yang muncul di luar dugaan. Hal tersebut dilakukan guna memberikan pelayanan yang
prima kepada pelanggan kami. Sadar akan pekerjaan dengan mobilitas tinggi tersebut, sepeda
motor menjadi pilihan untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor.

Kondisi sepeda motor yang prima menjadi keharusan. Untuk itu perawatan secara berkala juga
menjadi mutlak dilakukan. Setidaknya sepeda motor perlu mendapat perawatan atau service dan
ganti oli dengan oli yang berkualitas terbaik, memiliki tingkat kemurnian tertinggi dan
stabil terhadap suhu dan oksidasi dengan penguapan ekstra rendah. Oli TOP1 memenuhi syarat
tersebut. Dengan oli tersebut akan menghasilkan gesekan minimal dan akselerasi yang
maksimal. Dan yang tak kalah pentingnya akan mencegah mesin cepat aus.

Lebih dari itu, saya harus memastikan bahwa sepeda motor berfungsi dengan baik. Lampu kota, lampu sein, klakson, kopling, rantai roda dan rem menjadi hal penting untuk diperhatikan. Hal tersebut perlu dilakukan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan meminimalisir risiko ketika dalam perjalanan.

Saya dan sopir berikut truk kontainernya sampai tempat tujuan bertepatan dengan adzan
maghrib. Seharusnya bisa langsung stuffing. Tapi berhubung sudah maghrib, kegiatan stuffing
akan dilakukan setelah berbuka dan sholat maghib.

Seharusnya saat ini saya berada di sebuah rumah makan di Solo untuk berbuka bersama. Pasti
akan menyenangkan karena teman-teman akan membawa cerita-cerita yang menyegarkan. Belum lagi
menu makanan yang beraneka ragam dan menggugah selera.

Lalu kemana saya akan berbuka puasa?

Tidak jauh dari pabrik ada sebuah warung ‘HIK’ di pinggir jalan. HIK adalah kependekan dari Hidangan Istimewa Kampung. Begitu orang Solo menamai warung yang menjajakan aneka makanan ini. Ciri khasnya adalah sebuah gerobak dengan tiga buah ceret minuman di atas tungku. Menu andalah HIK adalah nasi kucing. Selebihnya
aneka gorengan dan sate. Orang Jogja menamainya dengan sebutan angkringan. Sedang orang Semarang menyebutnya Kafe Meong, karena menjajakan nasi kucing. Disebut nasi kucing karena nasi bungkus sekepalan tangan orang dewasa itu diberi lauk seiris kecil ikan asin.

Di sanalah saya berbuka puasa. Dengan bersepeda motor, saya ajak sopir untuk berbuka puasa
di HIK pinggir jalan itu. Kini saya berbuka puasa bersama. Bersama dengan sopir truk yang
sempat membuat saya jengkel. Namun perbincangan ringan membuat kejengkelan yang tadi saya
alami menjadi larut. Darinya saya memahami kenapa dia tidak membawa hp. Katanya hp yang
biasa digunakan terpaksa ditinggal di rumah, karena sang istri sedang menunggu berita
penting dari saudaranya. Harap maklum mereka hanya memiliki satu buah hp.

Dari dia, saya juga mendapatkan informasi bahwa di pintu tol Tembalang Semarang sempat
terjadi antrian panjang. Belum lagi kemacetan yang cukup lama di Banyumanik Semarang akibat
truk yang melintang dari arah Semarang. Informasi itu membuat saya maklum akan
keterlambatannya.

Segelas teh hangat, sebungkus nasi kucing, tempe goreng dan satu tusuk sate ayam cukup untuk berbuka
puasa. Sungguh nikmat rasanya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 4 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 5 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 9 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: