Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Msrizqi

Suka orang yang penuh dedikasi dan setia, apakah itu Anda?

Ketemu Bung Karno

OPINI | 10 August 2011 | 14:45 Dibaca: 1903   Komentar: 4   0

Hari Selasa 21 Juni 2011 pukul 05 pagi bangun teringat satu segmen dalam mimpi, bertemu Soekarno. Sebetulnya aku bukanlah penggemar Soekarno, mengingatnya pun jarang kecuali ia sebagai presiden pertama RI dan hanya sedikit ideologinya yang aku tahu dan aku pelajari. Tapi entah kenapa tiba-tiba ia muncul dalam mimpiku. Dan barangkali Bung Karno pun tahu aku bukan pengikutnya sehingga segmen yang ia tampilkan dalam mimpiku pun bukan segmen tentang heroisme yang sering ia tampilkan dalam perjuangan membela negara atau mengutarakan ideologinya, melainkan perjuangan melamar seorang wanita. Hihihi, barangkali aku terlalu terobsesi pengin melamar wanita sehingga Bung Karno seperti sedang memberi tahu aku bagaimana ia melamar wanita, wkwk..

Dan yang mengherankan, kemunculan sosok Bung Karno dalam mimpi itu bertepatan dengan hari meninggalnya. Hal ini sama sekali tidak aku ketahui. Aku tahu sewaktu membaca Koran Kompas Edisi 21 Juni 2011 di atas Cirebon Express dalam perjalananku ke Jakarta dari Kota Tercinta, TEGAL. Aku menyambut beritanya dengan senyum kecil, dan sedikit tanya tentunya. Ada apa dengan kemunculan Bung Karno tepat di hari kematiannya?

Jika menengok ungkapan Sigmund Freud tentang mimpi, ia bisa saja berasal sekumpulan data yang terlupakan di otak. Jika demikian, apakah kehadiran Bung Karno seakan ingin mengingatkan aku akan sosoknya?

Kalo boleh, aku akan menarik pernyataan di atas untuk digeneralisasi yang barangkali kita bisa menangkap hikmah kemunculannya itu. Ya, mimpi bisa berasal dari sekumpulan data yang terlupakan di otak dan tersimpan di alam bawah sadar kita. Apakah itu tandanya bahwa Bung Karno telah kita lupakan? Padahal Bung Karno sendiri mengingatkan pada kita semasa hidupnya bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan. Kalau demikian, kita bukanlah bangsa yang besar karena kita sudah melupakan jasa-jasa pahlawan kita. Yang memalukan adalah sekelompok orang yang terlibat dalam perjuangan pun tidak tapi dia mengaku-ngaku pahlawan untuk kepentingan pribadi dan kelompok saja.

Bung Karno sebetulnya bukanlah orang yang menarik buatku, hingga aku menemukan satu periode dalam hidup Bung Karno yang begitu elegan sehingga menarik banyak perhatian perempuan. Dari situ kemudian aku mulai tertarik untuk mendekati Bung Karno, hingga kemunculannya dalam mimpi tersebut. Dan beberapa hari yang lampau, seorang teman di facebook menulis sebuah catatan yang isinya begitu menarik buatku, dia menceritakan tentang guru-guru spiritual Bung Karno yang merupakan ulama-ulama internasional, bukan dukun-dukun pagan. Diceritakan juga oleh teman facebook-ku itu bahwa peristiwa supersemar dan rencana perebutan kekuasaan oleh orang kepercayaannya sebetulnya diketahui olehnya namun dengan rendah hati Bung Karno membiarkan usaha orang kepercayaannya itu dan menyerahkan agar rakyat saja yang merebutnya kembali.

Barangkali hal di atas bukanlah sesuatu yang patut dibesar-besarkan, namun hendaknya dengan kehadiran Bung Karno di tengah kelupaanku padanya bisa menarik kembali hatiku untuk bisa mendekatinya, mengambil pelajaran padanya dan meneruskan apa yang dicitakannya.

Satu lagi, meski peristiwa kehadiran Bung Karno itu sudah hampir dua bulan lalu, tapi aku baru sempat menerbitkan tulisan ini sekarang karena baru tak selesaikan. hhe..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pelayanan Sertifikasi Lebih Optimal Produk …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 24 October 2014 | 07:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 5 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 10 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 11 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Pengabdi …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Usai Gasak Malaysia, Timnas Justru Takluk …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Nama Makanan yang Nakutin …

Arya Panakawan | 8 jam lalu

Gelar Terpental demi Sahabat Kental …

Adian Saputra | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: