Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Anjar Anastasia

saya senang menulis, menulis apa saja maka lebih senang disebut "penulis" daripada "novelis" berharap tulisan saya tetap selengkapnya

Ina, Korban KDRT

REP | 09 August 2011 | 09:51 Dibaca: 118   Komentar: 6   0

1312883335435932606
“Inilah pernikahan yang sesungguhnya: menolong satu sama lain untuk bertumbuh sepenuhnya menjadi seseorang yang bertanggungjawab dan tidak melarikan diri dari kehidupan.”

Sebut saja namanya Ina. Seorang perempuan cantik, lulusan sebuah Sekolah Tinggi Ekonomi. Ina adalah perempuan yang mencintai keluarganya, pintar memasak & menjahit serta sayang kepada adik-adiknya. Ketika dia masih sekolah dan kuliah, tidak sedikit laki-laki yang mencoba mendekatinya. Ada satu dua orang yang berhasil mencuri perhatian Ina walaupun tidak lama. Meski hubungan berakhir, hubungan baik tetap terjaga. Nggak heran, kalau Lebaran tiba, rumah Ina penuh oleh teman-temannya. Ina memang adalah pribadi yang menyenangkan.

Diantara laki-laki yang dekat dengannya adalah Nada, arjuna teman sekolahnya yang berhasil mengambil hati Ina sepenuhnya. Bahkan dengan Nada ini, Ina berani melangkah untuk menata kepada hubungan yang lebih serius ke depan. Ina sangat mencintai Nada.

Dalam hubungannya dengan orangtua, Ina memang lebih dekat dengan Ayahnya. Maka nggak heran kalau Ina selalu menceritakan semua kepada Ayahnya. Restu untuk menikah dengan Nada, ia dapat pertama kali dari Ayahnya. Sementara sang Ibu lebih banyak ingin ada pertimbangan serta pengenalan lebih dalam lagi sebelum ke jenjang pernikahan. Karena sudah merasa saling mencintai, tentu saja usul Ibunya itu tidak bisa ia terima meski Ina tahu, usul Ibunya demi kebaikan juga.

Hingga akkhirnya pernikahan itu tiba juga. Pesta besar digelar dihadiri banyak saudara. Semua orang mengagumi kecantikan sang putri serta kegagahan sang pangeran. Apalagi nggak lama setelah itu psangan baru itu bisa mendapat kesempatan bekerja ke luar negri dan di sana lahir anak-anak mereka yang cantik-cantik.

Setelah cukup lama tinggal di luar negri, keluarga kecil itu kembali lagi ke Bandung dengan membawa banyak harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik. Tapi, siapa sangka ternyata ini semua awal bencana Ina. Ia yang seorang Sarjana Ekonomi, tidak boleh lagi bekerja lagi untuk membatu ekonomi keluarga. Sang suami hanya memperbolehkan Ina untuk mengurus rumah tangga anak-anak saja. Sementara itu, pekerjaan suaminya mengalami kondisi surut. Hutang mulai menumpuk, pekerjaan terbengkalai dan yang lebih menyakitkan Ina, mulai sering mendapati suaminya mabuk-mabukkan dan pulang pagi. Anak-anak terbengkalai.

Biar begitu, Ina masih tetap bertahan. Demi anak-anak, dia berusaha melakukan yang terbaik dan menerima kondisi dengan lapang dada. Apalagi ada Ayahnya yang selalu menyemangati serta menerima segala macam curhat dikala kesesakan itu nyaris melemahkan semangat Ina.

Tapi, hidup manusia memang sudah ada yang menentukan. Suka duka yang dialami oleh masing-masing ciptaan terbaik dari Sang Maha Pencipta itu silih berganti dan tidak ada yang bisa memilih. Ayahanda Ina yang ia sayangi dan cintai, dipanggil yang kuasa tahun 2004 lalu. Saat itu Ina sedang hamil tua anaknya yang ketiga. Cucu yang diinginkan sang ayah sebab dua cucu sebelumnya berjenis kelamin perempuan. Meski sedang hamil tua, Ina mencoba tegar dan kuat. Dengan perut buncitnya, ia mengantarkan jenazah ayah tercinta sampai ke liang lahat.

Dari sini, masalah tidaklah berkurang malah bertambah. Mungkin karena sudah tidak ada lagi yang bisa membela Ina, Nada, suaminya berani melakukan banyak tindakan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Sifat kerasnya makin menjadi. Memukul, mencekik, bentak-bentak, membanting perkakas, mengumpat, jarang memberi nafkah kepada keluarga bahkan yang sangat menyakiti hati, Nada mempunya wanita idaman lain.

Pertahanan Ina nyaris luluh.

Kandungannya melahirkan anak lagi yang memang menjadi keinginan banyak orang sebab berjenis kelamin laki-laki. Tapi, itu tidak bisa meredam kekasaran yang kian diperlihatkan suami yang masih ia cintai. Hari-hari Ina mulai terisi dengan ketakutan jika suaminya marah dan mabuk-mabukkan. Belum lagi tidak pulang ke rumah dengan banyak alasan padahal ia selingkuh dengan perempuan lain.

Yang lebih menyakitkan hati lagi, semua hutang yang dilakukan suaminya, dibebankan ke dia, baik cara menolak/menghadapi para debt collector yang meminta atau meminjam lagi ke orang lain buat sedikit menyicil hutang. Telepon, rumah serta pergaulan Ina mulai diperketat sebab banyak yang mencari. Saya melihat sendiri gimana dia harus menolak banyak debt collector dengan segala alasannya. Sementara sang suami, dengan alasan bekerja jadi kian sering pulang ke rumah. Malah kebutuhan keluarga untuk makan dan lain-lain sudah tidak dipedulikan Nada. Semua kebutuhan keluarga Ina itu kadangkala adalah hasil belas kasih saudara dan teman. Belakangan Ina tahu, semua hutang dan alasan kerja suaminya hanya demi perempuan lain itu. Usahanya melabrak perempuan itu cuma berhasil sebentar karena akhirnya suaminya kembali lagi ke perempuan itu. Niat bercerai yang sempat terkilas, tidak ia teruskan sebab ia ingat anak-anaknya yang masih kecil.

Puncak dari segala masalah itu ketika Ina sekeluarga harus berpindah-pindah rumah tinggal demi menghindari debt collector. Keluarga yang semula tidak tahu, mulai mengetahui. Ketika mereka pindah sebentar ke rumah orang tua Ina, sang Ibu yang sebenernya sangat mencintai Ina, jadi salah satu korban lain dari masalah suami Ina. Tapi, Ibu Ina menerima itu dengan iklas. Dia malah menangis untuk nasib anak perempuan kesayangannya. Terlebih kemudian, Ina harus pindah tempat tinggal lagi entah dimana. Sampai-sampai Ibu dan saudaranya yang lain tidak bisa mengetahui keberadaannya sama sekali. Bahkan di hari bahagia seperti hari Lebaran. Komunikasi hanya bisa lewat sms saja atau dari Ina yang menelpon dari wartel. Akses Ina menuju kemana pun sangat dibatasi suaminya. Keluarga tidak pernah tahu lagi apa yang terjadi dalam keluarga tersebut. Hutang-hutang yang menumpuk pun entah bagaimana nasibnya lagi.

Hingga beberapa hari lalu, dalam kesenyapan malam dan dinginnya udara, Ina dikembalikan lagi ke rumah orang tuanya. Bukan sebagai Ina yang ceria, cerewet atau tangkas mengerjakan pekerjaan rumah tanga. Bukan juga dihantar oleh suaminya. Tetapi, Ina dihantar oleh ambulan rumah sakit dengan tubuh kaku dan tidak bernyawa lagi. Dalam laporan resmi pihak rumah sakit serta kakak dari suaminya yang turut mengantarkan, dikatakan Ina mengalami kejang-kejang lalu meninggal dunia. Kejang-kejang karena apa, tidak ada penjelasannya.
Namun, seiring tingginya mentari serta banyak orang-orang datang untuk melayat, banyak yang tahu ada kejanggalan dalam tubuh perempuan berkulit putih bersih itu. Saya sendiri nggak tega untuk membuka lebih banyak dari kain kafan yang menutupinya. Saya hanya bisa melihat sedikit wajah dan memegang kakinya seraya meminta maaf sebab sebenarnya selama beberapa bulan terakhir ini saya bersama Rini adiknya sedang berusaha untuk mencarikan jalan terbaik untuk keutuhan dan penyelesaian terbaik masalah keluarga Ina. Sebuah LSM yang terdiri dari teman-teman baik saya, sudah bersedia membantu. Tinggal mencari waktu saja untuk bertemu dengan Ina yang memang juga sudah bersedia didampingi dan dibantu.

Kenyataan lain dari rencana. Ina sudah lebih dahulu pergi meninggalkan 4 anak yang masih kecil-kecil. Pergi dengan cara yang tidak jelas dan penuh tanda tanya. Ia pergi sendiri tanpa ada yang mengetahui yang sebenarnya terjadi. Suami pun tidak berani mengatakan yang sebanarnya kepada keluarganya. Bahkan ketika jenazah disholatkan tidak terlihat Nada, keranda diangkat justru yang mengangkat kakak Ina dan saudara yang lain, saat mayat diturunkan ke liang lahat Nada masih jalan santai menuju pekuburan. Wajah sedih itu tidak diyakini sebagai wajah kesedihan mendalam seorang suami yang ditinggal istrinya.

Kondisi ini tentu saja menjadi bahan perbincangan semua yang hadir. Orang-orang tidak buta. Semua yang terjadi jelas bisa terlihat mata. Meski keluarga Ina memberi kebijakan untuk tidak melakukan otopsi, tapi tak ada yang bisa ditutupi. Kesabaran Ina selama ini menghadapi semua cobaan, akan menjadi seperti pintu yang terbuka lebar satu-satu sepeninggalnya.

Secara pribadi, saya berharap kejadian ini memberi pelajaran berharga buat semua manusia. Tidak sebagai istri saja, tetapi juga sebagai suami. Cukuplah seorang Ina menjadi korban. Jangan ada Ina-ina lain lagi. Sebab bukankah membentuk keluarga adalah membentuk sebentuk kebahagiaan terkecil dalam dunia luas ini? Pengertian, saling berbagi, hormat menghormati serta mendukung satu sama lain adalah pondasi kuat mencapai itu semua?

Seperti kata Aristoteles : Cinta terdiri atas sepenggal jiwa yang dihuni dua tubuh. Maka jika cinta menjadi penyatu dua orang berlawanan jenis dalam hubungan pernikahan, mari kita jaga jiwa yang telah dihuni dua tubuh itu agar abadi selamanya. Tidak ada hal lain yang mengganggu.

Selama jalan Ina. Tempat terbaik yang jauh dari segala kekerasan serta kesedihan telah disediakan Sang Maha Kasih di sana.
(kenangan ramadan untuk Ina, teman sepermainan….)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Sun Life Syariah …

Agung Han | | 31 August 2014 | 07:02

“Jalanan” Kembali Raih …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 05:35

Kompas Jelajah Sepeda Manado-Makassar, Bikin …

Muhammad Zulfadli | | 30 August 2014 | 22:58

Jangan Biarkan Sulit Tidur Mengganggu Hidup …

Dr Andri,spkj,fapm ... | | 30 August 2014 | 23:37

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 2 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 4 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 4 jam lalu

Lurah Cantik nan Kreatif dan Inspiratif …

Axtea 99 | 8 jam lalu

Hak Menahan Tersangka, Kartu ATM Polisi …

Hanny Setiawan | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Bangun UMKM Tanpa APBN …

Ukm Indonesia | 7 jam lalu

Kompasioner Terancam …

Hendra Budiman | 7 jam lalu

Tkw Menjadi Sasaran Utama Kejahatan …

Melati Adnari | 7 jam lalu

Sedihnya Saat Waktu Berpisah Tiba (Catatan …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: