Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Isk_harun

Lahir 1935 .TKI dinegara jiran dari 1971-1998, berkesempatan tugas dimanca negara. Menulis diblog ini sebagai selengkapnya

Orang tua Minang

REP | 07 August 2011 | 13:57 Dibaca: 331   Komentar: 8   2

Ada pantun orang Minang yang terkenal;

“ Karatok madang diulu

Bababuah babungu balun

Marantau lah bujang dahulu

Dirumah paguno balun “

Yang kira-2 artinya semasa muda merantau dahulu , karena dirumah belum diperlukan.

Mungkin ungkapan ini bisa sedikit diplesetkan menjadi bait terakhir;

“  Maratau urang gaek dahulu

Karena dirumah sudah kosong “.

Ini adalah salah dilema masyarakat Sumbar. Walau  menurut catatan statistik angka kelahiran di Sumbar cukup tinggi, namun jumlah penduduknya tidak bertambah.

Suatu typical dari keluarga asalnya  adalah petani. Waktu anak kecil disekolahkan dengan berbagai cara, yang penting sekolah ke Jawa. Mungkin ada yang gagal, tapi kita lihat dulu yang berhasil. Semua anak disekolahkan , lelaki dan perempuan.  Setelah mereka berhasil sekolah , kemudian mereka   berkerja dan berkeluarga . Hampir 90% dari mereka tidak ada yang pulang kampung untuk mencari nafkah. Orang tuapun cukup berbahagia karena semua anaknya jadi orang. Menantupun baik, walau bukan orang Minang. Setiap bulan setoran dari anak-2 lebih dari cukup.

Karena kondisi badan sudah mulai tua, dan saatnya menikmati hasil dari anak, maka sawah dan ladangpun sudah dikerjakan orang lain dengan bagi hasil dan sebagainya.

Umur tua akan bertambah tua dan macam 2 penyakit mulai datang , anak  yang berbakti pada orang tuanya tidak akan membiarkan orang tuanya berdua saja dirumah. Juga karena susah mendapatkan PRT. Orang tua harus ikut mereka merantau ke Jawa ( ?). Disini kalau perlu bisa pakai perawat dirumah.  Dengan segala usaha anak-2 memantu mereka meyakinkan  akan lebih baik bapak atau ibu ikut mereka.

Banyak sekali orang tua yang menhembuskan nafas penghabisan dirantau  , termasuk  ibu dan kedua mertua saya. Persoalan baru timbul bagaimana dengan rumah , sawah  dan ladang yang tertinggal ?.

Persoalan menjadi rumit karena adat Minang tidak mengizinkan mereka mejual harta tersebut. Maka anda akan melihat banyak rumah yang bagus-2 (setelah direnovasi ) ditinggalkan begitu saja , paling -2 sewa orang untuk menjaga, hasil sawah ladang kalau tidak direlakan pada keluarga jauh direlakan saja pada penggarap.

Banyak juga rumah yang disunglap jadi Mushola, atau mesjid.Tapi akhir akan kebanyak Musholanya  dari pada jemaahnya. Ada yang merenovasi rumah lengkap dengan toilet duduk dan kamar layak hotel berbintang, hanya untuk ditempati sekali setahun.  Ada pula keluarga yang saya tahu mewakafkan tanah ladangnya untuk jadi sekolah, ada pula yang membangun sendiri gedung diatas tanah ladangnya untuk selanjut diserah ke Pemda untuk dipakai hanya sebagai Puskesmas.

Bagaimana  generasi berikutnya, karena yang disebut itu rantau bukan lagi Jawa , tapi LN, Malaysia , Singapore , Eropa, Austraila, Amerika. Apakah ortunya kan diboyong kesan ?

Mungkin saja, karena dunia tetap berubah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 10 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 14 jam lalu

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 16 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 18 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Rebranding Sepak Bola di India …

Handy Fernandy | 10 jam lalu

Kesetrum, Antara Reflek dan Tuhan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Judika Bangga Membagikan Budaya di Rising …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

i-Road, “Bajaj” Masa Depan ! …

Angga Saputra | 11 jam lalu

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: