Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Isk_harun

Lahir 1935 .TKI dinegara jiran dari 1971-1998, berkesempatan tugas dimanca negara. Menulis diblog ini sebagai selengkapnya

Orang tua Minang

REP | 07 August 2011 | 13:57 Dibaca: 328   Komentar: 8   2

Ada pantun orang Minang yang terkenal;

“ Karatok madang diulu

Bababuah babungu balun

Marantau lah bujang dahulu

Dirumah paguno balun “

Yang kira-2 artinya semasa muda merantau dahulu , karena dirumah belum diperlukan.

Mungkin ungkapan ini bisa sedikit diplesetkan menjadi bait terakhir;

“  Maratau urang gaek dahulu

Karena dirumah sudah kosong “.

Ini adalah salah dilema masyarakat Sumbar. Walau  menurut catatan statistik angka kelahiran di Sumbar cukup tinggi, namun jumlah penduduknya tidak bertambah.

Suatu typical dari keluarga asalnya  adalah petani. Waktu anak kecil disekolahkan dengan berbagai cara, yang penting sekolah ke Jawa. Mungkin ada yang gagal, tapi kita lihat dulu yang berhasil. Semua anak disekolahkan , lelaki dan perempuan.  Setelah mereka berhasil sekolah , kemudian mereka   berkerja dan berkeluarga . Hampir 90% dari mereka tidak ada yang pulang kampung untuk mencari nafkah. Orang tuapun cukup berbahagia karena semua anaknya jadi orang. Menantupun baik, walau bukan orang Minang. Setiap bulan setoran dari anak-2 lebih dari cukup.

Karena kondisi badan sudah mulai tua, dan saatnya menikmati hasil dari anak, maka sawah dan ladangpun sudah dikerjakan orang lain dengan bagi hasil dan sebagainya.

Umur tua akan bertambah tua dan macam 2 penyakit mulai datang , anak  yang berbakti pada orang tuanya tidak akan membiarkan orang tuanya berdua saja dirumah. Juga karena susah mendapatkan PRT. Orang tua harus ikut mereka merantau ke Jawa ( ?). Disini kalau perlu bisa pakai perawat dirumah.  Dengan segala usaha anak-2 memantu mereka meyakinkan  akan lebih baik bapak atau ibu ikut mereka.

Banyak sekali orang tua yang menhembuskan nafas penghabisan dirantau  , termasuk  ibu dan kedua mertua saya. Persoalan baru timbul bagaimana dengan rumah , sawah  dan ladang yang tertinggal ?.

Persoalan menjadi rumit karena adat Minang tidak mengizinkan mereka mejual harta tersebut. Maka anda akan melihat banyak rumah yang bagus-2 (setelah direnovasi ) ditinggalkan begitu saja , paling -2 sewa orang untuk menjaga, hasil sawah ladang kalau tidak direlakan pada keluarga jauh direlakan saja pada penggarap.

Banyak juga rumah yang disunglap jadi Mushola, atau mesjid.Tapi akhir akan kebanyak Musholanya  dari pada jemaahnya. Ada yang merenovasi rumah lengkap dengan toilet duduk dan kamar layak hotel berbintang, hanya untuk ditempati sekali setahun.  Ada pula keluarga yang saya tahu mewakafkan tanah ladangnya untuk jadi sekolah, ada pula yang membangun sendiri gedung diatas tanah ladangnya untuk selanjut diserah ke Pemda untuk dipakai hanya sebagai Puskesmas.

Bagaimana  generasi berikutnya, karena yang disebut itu rantau bukan lagi Jawa , tapi LN, Malaysia , Singapore , Eropa, Austraila, Amerika. Apakah ortunya kan diboyong kesan ?

Mungkin saja, karena dunia tetap berubah

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Mengapa IRT Perlu Memiliki Penghasilan …

Ella Zulaeha | | 23 July 2014 | 14:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 5 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 6 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 10 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: