Saya besar di keluarga dimana agama bukan hal suatu keharusan tetapi sesuatu yang harus diyakini dan dipelajari sendiri. Jadi orang tua saya tidak menganggap sebuah keharusan untuk memaksa saya belajar mengaji, namun karena hampir semua teman saya pergi mengaji setelah Sholat Maghrib di Mesjid disambung dengan Sholat Isya bersama maka saya dan kakak saya pun akhirnya ikut tenggelam dalam keriaan Mesjid bersama teman-teman.
Saat itu saya masih berumur 3 tahun dan awal tahun 80-an, namun saya suka sekali ke Mesjid. Di Mesjid kami belajar mengaji dan menghafal Al Qur’an. Seingat saya walaupun lafal saya belum benar namun saya bisa menghafalkan Surat Al Fatihah dan beberapa Surat Pendek. Caranya menghafal pun cukup unik dengan menghafal beramai-ramai dengan teman-teman setiap habis mengaji. Karena saya anak bawang, saya tidak diajarkan membaca tetapi oleh para Guru Ngaji tanpa mereka sadari, saya diajarkan Surat-Surat Pendek.
Kami beramai-ramai akan meneriakan hafalan kami, dibuka dengan Surat Al Fatihah kemudian disusul dengan Surat-Surat Pendek yang diperintahkan oleh Guru Ngaji. Kalaupun salah pengucapan atau salah ayat, Guru NGaji kami tidak pernah sekalipun memarahi atau menghukum kami, mereka malah memberikan semangat agar kami mengaji lebih keras lagi.
Setelah itu dilanjutkan Sholat Isya berjamaah dengan orang dewasa. Disini saya punya kebiasaan lucu dan aneh, entah kenapa saya suka sekali dengan gerakan sujud. Kalau sudah sujud saya bisa mendahului Imam dan lama sekali. Ketika rakaat terakhir terkadang saya sudah tidak bangun lagi. Menurut cerita orang tua saya, pada saat itulah saya sudah ketiduran dalam posisi sujud. Sehingga salah seorang remaja Mensjid atau kakak saya akan memanggil Bapak saya untuk menggendong saya pulang.
Di umur saya yang ketiga, kegiatan inilah yang saya lakukan hampir tiap malam dan saya bahagian melakukannya. Bahkan jika tidak diijinkan oleh orang tua saya karena saya belum makan atau karena saya sakit, saya bisa kabur ke Mesjid dengan pakaian tidur saya dan mengaji di Mesjid. Bagi saya Mesjid yang masih berdinding kelabu karena dindingnya masih belum ditutupi dengan cat adalah rumah kedua.
Ketika Ramadhan tiba, saya dan kakak saya lebih banyak menghabiskan waktu di Mesjid. Baik siang maupun malam. Mesjid bagi kami berdua bagaikan pusat kehidupan kami. Kakak saya Tarawih walaupun pasti saja berbuat iseng dan membuat marah para remaja Mesjid namun mereka selalu menerima kami kembali seakan kami ini tak punya dosa dan kesalahan. Begitu juga jika saya tidur di Mesjid, mereka dengan senang hati memindahkan saya dipojokan Mesjid, menyelimuti saya dengan sarung dan kemudian memanggil Bapak saya untuk menggendong saya pulang ketika mereka sudah selesai melaksanakan Tarawih.
Tak berapa lama saya pindah dari Jakarta ke Bontang, Kalimanta Timur. Bagi saya yang masih berumur 3 tahun lebih ini merupakan perubahan besar, apalagi saya harus kehilangan teman-teman, rumah dan Mesjid saya.
Ketika umur saya 5 tahun, salah seorang teman saya mengajak saya mengaji di sebuah Musholla dekat dengan rumah. Karena diajak dan tanpa persiapan saya tidak memakai kerudung dan membawa buku ngaji. Saya hanya memakai baju bermain saya. Karena saya punya kenangan indah dengan Mesjid dan mengaji, saya pikir yah tidak apa-apa kalau saya datang dengan seadanya.
Begitu datang, guru mengajinya langsung menegur saya karena baju saya tidak pantas untuk pergi ke Musholla. Dia bilang saya harus pakai kerudung dan baju lengan panjang. Selain itu saya harus membawa Al Qur’an kecil dan buku tulis. Waktu itu saya hanya diam saja tapi saya tahu, Musholla ini tidak akan pernah menjadi rumah kedua saya.
Setelah 5 kali belajar mengaji, saya memutuskan berhenti karena saya cukup mengerti jika setiap kali saya datang hanya masalah baju, baju dan ketidakpunyaan saya akan Al Qur’an kecil selalu jadi masalah maka itu artinya saya ditolak dalam Musholla itu. Seandainya Guru Ngaji itu tahu Ibu saya yang sedang bekerja sedang mengusahakan untuk membeli perlengkapan mengaji saya, namun karena Bontang saat itu masih hanya sebuah kecamatan kecil yang berada di tengah hutan Kalimantan sehingga Ibu saya tidak dapat membelikan saya Al Qur’an kecil karena persediaan di toko buku satu-satunya sudah habis harus menunggu barang datang dari Surabaya.
Ketika Ramadhan pun, kami tidak bebas untuk sekedar menghabiskan waktu di Musholla. Kakak saya pernah dimarahi habis-habisan sama pengurus Musholla hanya karena Pengurus Musholla tidak terima kakak saya dan teman-temannya ribut di halaman Musholla ketika orang lain Sholat Tarawih. Kakak saya bahkan sampai ditarik kerah lehernya. Lucunya setelah diusut ternyata teman-teman kakak saya yang lain tidak diapa-apain karena teman-temannya adalah murid mengaji Musholla tersebut sedangkan kakak saya bukan.
Keesokan harinya ketika kakak saya ke Musholla, kakak saya seperti dihalang-halangi oleh Pengurus Musholla. Dia sampe teriak-teriak ke kakak saya dengan segala sumpah serapah. Lucunya setelah 20 tahun kemudian kakak saya menjadi dosen si Pengurus Mesjid dan harus memanggil kakak saya Pak. Si Pengurus Mesjid itu sampai harus mengambil berkali-kali mata kuliah yang diajarkan kakak saya karena tidak lulus, itu bukan karena kaka saya dendam, namun memang dia tidak lulus.
Sejak saat itu, saya amat merindukan Mesjid “jelek” kami di Jakarta. Memang jelek namun didalamnya ada sejuta kemeriahan dan kenyamanan untuk mengenal dan lebih dekat dengan Allah SWT. Tanpa ada teriakan dan hardikan sumpah serapah karena kami ribut atau cekikikan karena kami kentut ketika Tarawih. Tanpa ada Guru Ngaji yang enggan mengajarkan kami mengaji hanya karena kami tidak memakai baju yang sesuai dan tidak punya Al Qur’an kecil. Dan itulah yang melekat dalam kenangan saya….Mesjid Kami, Rumah kedua Kami.
TELKOMSEL RAMADHANKU