Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Aswar M. Djulaifah

Belajar menulis dan memulung kata. Pengajar di Bintang Pelajar Kota Wisata Cibubur Cileungsi. Mari berbagi selengkapnya

Nasihat untuk Anak-Anak

OPINI | 01 August 2011 | 15:39 Dibaca: 541   Komentar: 0   0

Saya bersyukur tinggal di kampung yang jauh dari keramaian kota. Bersyukur karena lingkungan tempat tinggal saya sangat menghargai perbedaan hingga saat ini. Teringat beberapa tahun sebelumnya demikian susah bertoleransi dalam perbedaan menjalankan kewajiban agama, khususnya implementasi ibadah-ibadah dari tata caranya. Maklumlah, tempat tinggal saya masih kuat memegang adat istiadat, dalam pengertian lain masih teguh mengamalkan ajaran agama secara tradisional. Salah satu faktor yang berngaruh dalam hal ini adalah rendahnya tingkat pendidikan dan kuatnya pengaruh lingkungan sekitar memungkinkah anak-anak sebaya saya pada masanya lebih memilih berhenti sekolah saat duduk di bangku sekolah dasar atau menjadi tukang becak setelah tamat SMP atau SMA. Bahkan ada yang “belajar” menjadi eminta-minta masuk ke kelas-kelas sekolah. Terbayang bagaimana pendeknya cita-cita anak-anak pada masa itu di kampung saya.

Malam ini, tepatnya malam pertama Ramadhan, saya tarawean di masjid yang tidak jauh dari rumah. Sekira dua ratus meter. Seperti di bulan Ramadhan yang telah berlalu, di masjid saya dan berlaku juga di hampir seluruh masjid di kota saya, bahkan mungkin di seluruh Indonesia, awal bulan suci masjid disesaki jamaah yang akan mendirikan sholat. Terlebih khusus sholat tarwih. Kakek-kakek, nenek-nenek, bapak-bapak dan ibu-bu, para remaja hingga anak-anak yang belum tahu apa-apa tentang hakikat ibadah sholat ikut ke masjid walau sekadar nongkrong atau reunian dengan teman-teman bermain sebayanya. Bahkan yang belum pernah nongol di masjid selama sebelas bulan di luar Ramadhan, kecuali di hari Jumat juga datang berduyung-duyung. Barangkali ini efek dan tarikan kuat pesona Ramadhan yang diberkahi oleh Allah.

Ramadhan bagi saya memiliki tarikan kuat dalam jiwa yang “memaksa” diri untuk banyak beribadah. Baik sholat wajib berjamaah di masjid, tarwih, ngaji, sedekah, silaturahmi, sms dakwah, hingga kata anak-anak muda tidur pun menjadi berpahala. Ini yang memicu mereka lebih banyak tidur dan bermalas-malasan di bulan penuh rahmat. Alibi dan asumsi ini saya kira kurang tepat karena hakikat tidur berpahala yang dimaksud adalah tidur untuk mencegah maksiat bukan menghilangkan produktivitas apalagi menyegaja tidur banyak-banyak sembari menunggu waktu berbuka. Kalau ini dilakukan minimal menyebabkan badan terasa lemah, lesu, lunglai, loyo dan semacamnya itulah. Sehingga persepsi banyak orang akan mudah dibenarkan bahwa berpuasa menyebabkan tubuh lemah. Ini perlu diantisipasi. Apakah anda masuk kategori manusia ini? Emmm, semoga tidak.

Saya dalam keadaan hakkul yakin bahwa puasa bukanlah faktor penyebab tubuh menjadi loyo, apalagi penghambat produktivitas. Mengantisipasi keadaan yang tidak diinginkan selama bulan suci Ramadhan, saya telah banyak berlatih sebelumnya. Semisal memperbanyak puasa sunnah atau bahkan tetap aktif bermain bulutangkis walau dalam keadaan berpuasa. Buktinya, saya tetap bersemangat. Apakah hal ini dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan seseorang? Atau hanya soal persepsi saja tentang puasa? Entahlah. Yang jelas dan pasti bagi saya, puasa membuat hidup lebih bersemangat.

Malam pertama tarwih biasanya diisi nasihat oleh pengurus masjid untuk mengevaluasi perkembangan masjid kami. Baik pembangunan fisiknya, kondisi keuangannya, hingga jamaah masjid itu sendiri. Nasihat kali ini lebih terfokus pada kiat-kiat untuk menjalankan ibadah di bulan suci lebih khidmat. Misalnya, nasihat agar para jamaah merapatkan dan meluruskan shafnya sehingga setan-setan tidak berpeluang ikut berdiri dalam shaf, anak-anak dilarang meng-amin-kan doa terlalu panjang sampai terdengar aminnya hingga radius dua kilo meter (begitu celoteh panitia masjid). Untuk kasus ini saya teringat sosok Mahar dalam kisah Sang Pemimpi-nya Andrea Hirata.

Jamaah perempuan dianjurkan bahkan diwajibakan mengisi shaf-shaf kosong terdepan dan tidak menyengaja mencari tempat-tempat lapang di shaf belakang. Biasalah, di masjid saya kalau tiba Ramadhan maka tiba pula meng-kapling tempat sholat dengan memberi tanda atau sekadar menyimpan sajadah di tempat-tempat tertentu setelah melaksanakan shalat maghrib. Usut punya usut, hal itu dilakukan untuk mengantisipasi tidak kebagian tempat saat isya dan tarwih nanti. Maka jangan heran kalau sebelum isya masjid kami, khususnya di shaf-shaf perempuan sudah penuh dengan jamaah. Maksudnya jamaah sajadah alias sajadahnya jamaah. Apakah di masjid anda juga ada fenomena sajadah yang mendahului tuannya seperti kisah saya? Semoga tidak.

Nasihat yang paling menyentuh dan menginspirasi saya mengabadikannya dalam tulisan ini adalah nasihat tentang celengan alias kotak amal. Di mana serunya? Berikut ini penjabarannya.

Barangkali termotivasi berburu pahala sebanyak-banyaknya di bulan ramadhan, para jamaah biasanya menyisihkan, lebih tepatnya mempersiapkan uang untuk mengisi kotak amal. Hitung-hitung amal, kalau seribu rupiah dilipatgandakan menjadi sepuluh ribu. Sepuluh ribu menjadi seratus ribu. Seratus ribu menjadi satu juta, dan seterusnya. Tentu saja untuk balasan mengisi kotak amal itu kita serahkan urusannya kepada yang Maha Kaya.

Ayah dan ibu saya juga tidak pernah ketinggalan. Bahkan bagaimanapun susahnya kami dalam keadaan ekonomi untuk konsumsi keluarga, selalu saja ada uang yang bisa dimasukkan ke kotak amal. Dari sikap orang tua saya itu, kami sekeluarga sebgai anak-anaknya juga jadi ikut-ikutan. Barangkali saya belum bisa terhitung untuk hal ini karena saya yang paling malas mengisi kotak amal daripada adik atau kakak-kakak saya. Saya pelit? Asal jangan berprasangka buruk, lho ya.

Yang lucu, anak-anak kecil pun suka mengisi kotak amal. Mungkin mereka sedikit banyak dapat nasihat dari orang tuanya tentang banyaknya pahala yang akan diperoleh bagi setiap orang yang beramal. Ada yang memasukkan koin seratus rupiah, mungkin sisa uang jajan di siang hari. Ada juga yang memasukkan koin lima puluh rupiah yang sudah tidak ada “harganya” sekarang ini. Yang lucu dan menggelitik, bahkan ada uang kertas seribuan rupiah yang sudah sobek dan tinggal sepotong yang ikut nyemplung ke dalam kotak amal. Wah, semangat sekali nih pelakunya (hehehe).

Perbuatan anak-anak kecil ini barangkali menjadi pelajaran bagi kita-kita yang sudah dewasa, yang boleh dikata, pelit, sedikit pelit, atau benar-benar pelit alias pelit karatan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Yuks Jadi Tongsis Reporter… …

Imam Suwandi | | 23 December 2014 | 00:56

Skandal Pekerja Apple, Mana Suara Pemerintah …

Fandi Sido | | 23 December 2014 | 09:17

Belajar Setia dari Tentara Suriah atau Lebih …

Abanggeutanyo | | 23 December 2014 | 05:27

Empat Modal PSSI Berprestasi di 2015… …

Achmad Suwefi | | 23 December 2014 | 07:07

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Fachri Hamzah Ucapkan Selamat Natal dan …

Gunawan | 4 jam lalu

Penyelidikan Korupsi RSUD Kota Salatiga …

Bambang Setyawan | 12 jam lalu

Akankah Nama Mereka Pudar?? …

Nanda Pratama | 14 jam lalu

Kasih Ibu dalam Lensa …

Harja Saputra | 15 jam lalu

Hebatnya Ibu Jadul Saya …

Usi Saba Kota | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: