Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Cucu Cahyana

Urang Sunda, Suka Baca, Bola, Biru...

Ada Apa dengan Waktu-waktu Shalat?

REP | 11 July 2011 | 18:58 Dibaca: 592   Komentar: 8   0

Allah, Tuhan kita semua sepertinya hanya cari-cari alasan saja mewajibkan shalat. Ya, sepertinya demikian. Karena dalam suatu riwayat Allah “mendeklarasikan” bahwa jikapun umat manusia dan jin tidak mau bersujud menyembah-Nya (shalat) tak akan sedikitpun mengurangi ke-maha-annya. Jadi memang, shalat itu bukan apa-apa bagi Tuhan. Lalu terbuktilah bahwa kewajiban shalat itu hanya cari-cari alasannya Tuhan saja. Alasan apa?

Ini hanya opini, tanpa ada dalil naqli (nash Al-Quran / Al-Hadits). Namun, inilah yang terlintas dari perenungan minggu ini. Minggu terakhir di Bulan Rajab (bulan dalam penanggalan muslim dimana pada bulan itu disyari’atkan kewajiban shalat).

Mengapa menurut saya kewajiban shalat itu hanya cari-cari alasannya Tuhan saja? Alasan apa?

Sebagian jawabannya sudah tertulis di atas (shalat bukan apa-apa bagi Tuhan). Jika seperti itu, maka shalat (kemanfaatannya) adalah untuk manusia/jin/makhluq-Nya yang dianugerahi kewajiban itu. Inilah hasil perenungan itu.

Bukti Tuhan itu Maha Cinta

Yang pertama perlu kita pegangi adalah bahwa Tuhan tak butuh shalat kita. Kita, makhluq-Nya, shalat ataupun tidak tak akan berpengaruh apa pun bagi (ke-maha-an) Tuhan. Hanya saja Tuhan itu Maha Cinta. Tuhan Yang juga Maha Tahu sepertinya menyelipkan hikmah (cinta-Nya) bahkan sejak “tawar-menawar” jumlah shalat sehari-semalam.

Konon, awalnya shalat itu hendak diwajibkan 50 waktu (kali) dalam 24 jam. Tetapi akhirnya hanya 5 waktu yang diwajibkan, yang lainnya berubah status menjadi sunat (bahkan sepertinya ditiadakan). Kalau dilaksankan ya dikasih “upah” oleh-Nya, kalau tidak ya nggak apa-apa, Dia tak akan murka.

Diskon dari 50 ke 5 saja, menurut saya adalah bukti ke-maha-annya. Maha Tahu (realistis, Tuhan sudah tahu bahkan 5 kali saja akan banyak dari hamba-Nya yang lalai. Apalagi 50 kali? Sangat tidak realistis dan mustahil Tuhan demikian. Yang mensyariatkan sesuatu kepada hamba-Nya tanpa bisa mengukur kemampuan mereka pastilah bukan Tuhan), Maha Adil (Tuhan memberikan bagian kesempatan agar manusia bisa leluasa mencari dunia) dan Maha Cinta (Tuhan ingin agar manusia mengistirahatkan raganya pada waktu-waktu shalat itu).

Rahasia Waktu-waktu Shalat

Bukti Maha Cinta-nya Tuhanlah yang selanjutnya ingin saya tulis. Bukti itu ada pada kesempurnaan penetapan waktu-waktu shalat. Apa gerangan? Sepertinya waktu-waktu shalat itu adalah rambu-rambu Tuhan agar manusia bersikap adil terhadap jasmaninya, tidak menganiaya diri sendiri dengan memporsirnya berlebihan.

Shalat Shubuh berada dalam rentang waktu pukul 04.00 – 04.30 (awal waktu shalat yang dirata-ratakan). Jika asumsi porsi tidur sehat manusia adalah 6-8 jam maka Tuhan kita tahu bahwa pada jam-jam itu hamba-hambanya sudah seharusnya bangun. Seperti halnya makan dan sebagainya jika kurang/bahkan berlebihan akan berakibat tidak baik bagi tubuh, sepertinya perihal tidurpun demikian.

Shalat Dhuhur biasanya antara pukul 11.30 – 12.00 (awal waktu shalat yang dirata-ratakan). Jeda antara shalat shubuh dan dhuhur cukup panjang jika dibandingkan dengan jeda selain antara keduanya. Selain memberi kesempatan untuk mencari peruntungan dunia seluas-luasnya, sepertinya Tuhan juga sudah mengukur kekuatan manusia. Setelah beristirahat pada malam hari, cadangan energi yang dimiliki manusia tentu masih penuh sehingga selama 6-7 jam bekerja pun masih tidak membahayakan dirinya. Lebih dari itu, mungkin berbahaya.

Semakin lama (sore) jeda antara waktu shalat itu semakin kecil. Dari dhuhur ke ashar sekitar 3 jam, dari ashar ke maghrib sekitar 2,5 jam dan dari maghrib ke Isya sekitar 1,5 jam. Bukankah semakin sore tenaga kita juga semakin berkurang? Bukankah meskipun dipaksakan tidak bersitirahat hasilnya tidak seoptimal seperti di waktu pagi hingga siang?

Akhirnya ini hanya opini, tak punya nash dan tidak pula punya referensi dari ilmu kesehatan yang bisa dirujuk. Saya ucapkan terima kasih saja bagi yang sudah membaca tulisan ini. Setuju atau tidak menjadi hak teman-teman semua yang membaca. Jikapun ada, dalil itu hanya Tuhan Maha Cinta –nya Nidji yang bisa saya berikan. Silahkan dinikmati “ceramah-indahnya” Om Giring Ce-es. 

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 8 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 9 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Vox Populi Vox Dei? …

Angin Dirantai | 7 jam lalu

Kayungyun: Catatan Sang Pelacur …

Kang_insan | 7 jam lalu

Tentang “Hobi” Baru SBY di …

Daniel H.t. | 8 jam lalu

Kenikmatan DPR …

Tion Camang | 8 jam lalu

Kata Mawar …

Prayogo Tulus | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: