Artikel

Catatan

Yoen Aulina Casym

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Dokter, Magister Administrasi Rumah Sakit lulusan FKM UI, bekerja di RS Hermina Jatinegara, menyukai dunia kepenulisan karena hobby. "aku bukan penulis, aku hanya seorang yang suka menyusun kata ke dalam baris"

Karena Buku Lidahnya Tak Pernah Kelu…


REP | 01 July 2011 | 20:34 Dibaca: 174   Komentar: 5   2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif

Anak yang sekarang berusia 20 tahun itu, calon dokter yang mengikuti jejak mamanya pernah di diagnosis menderita atrofi otak beberapa hari setelah lahir. Masih sebagai bayi mungil yang lahir dengan berat badan rendah, harus masuk ICU RSCM karena kejang, dan kemudian mendapatkan perawatan ahli neurologi anak selama beberapa tahun . Dokter yang merawatnya menganjurkan agar seluruh perkembangannya dibawah pengawasan fisioterapis, dan meski baru berusia beberapa hari, dokter Hardijono D Pusponegoro menganjurkan agar anakku itu dikenalkan pada buku, dibacakan cerita, dikenalkan pada warna dan tidak perlu berfikir apakah dia mengerti atau tidak, yang penting bacakan saja.

Sebagai orangtua, aku tentu saja menginginkan anakku tumbuh dan berkembang seperti anak normal lainnya, karena itu tanpa banyak tanya aku ikuti seluruh sarannya, anakku kuajarkan “membaca”. Setiap hari selalu ada waktu dimana kami sama-sama “duduk” dan serius dihadapan buku, dia dipangkuanku. Begitu berlangsung dari hari ke hari, aku benar-benar tidak peduli apakah dia mengerti, yang jelas buku menjadi salah satu kebutuhan pokok yang masuk dalam komposisi makanan gizi seimbang yang dia perlukan.

Waktu berjalan terus, kebiasaan membaca tak pernah ketinggalan, sampai akhirnya dia tidak perlu lagi dibacakan. Minatnya pada buku semakin tak bisa diredam sehingga acara beli buku harus dimasukkan dalam anggaran bulanan.

Kebiasaannya membaca membuat perbendaharaan katanya melampaui jumlah yang dimiliki anak-anak seusianya, dia menjadi kaya di usia balita, mungkin itu yang menyebabkan dia bisa menyelesaikan masa di sekolah dasar satu tahun lebih cepat dan SMP diselesaikan dalam waktu dua tahun saja karena membaca pelajaran ternyata juga bukan jadi beban, semua yang berkaitan dengan buku adalah kesenangan. Dia tahan berlama-lama di dalam kamar, buku setebal apapun dilahapnya seperti orang lapar. Baginya tidak ada buku yang tidak perlu.

Sekarang usianya sudah dua puluh tahun, jumlah buku yang dimiliki sudah tak terhitung jumlahnya dan tentu saja bukan cuma dijadikan pajangan. Sebagai mahasiswa Kedokteran, keakrabannya dengan berbagai macam buku ternyata sangat membantu, apalagi dia selalu merasa kurang kalau hanya baca satu buku, text book diperlakukan seperti buku cerita, dia bisa asyik tuh membacanya. Terus terang aku sampai terheran-heran, jangan-jangan dia tidak sedang membaca tapi tengah mendengarkan buku bercerita.

Dengan adanya buku disekitarnya, aku hampir samasekali tidak pernah mendengar dia mengungkapkan kebingungan mau melakukan apa di waktu luangnya, tidak pernah mendapatkan dia seperti kesepian meski dia tinggal sendirian di tempatnya yang terpisah jauh dengan kami kedua orangtuanya, Anakku di Malang dan kami di Jakarta. Dia selalu memiliki teman setia yang sangat toleran dan tidak pernah meninggalkannya dalam kondisi apapun juga.

Buku-buku yang dia baca seolah memberikan berbagai macam kesenangan padanya , menajamkan kemampuan analisa dan membuat lidahnya mahir dalam mengungkapkan apa saja. Karena buku lidahnya tidak pernah kelu. Bahkan buku telah membuat jari jemari yang melekat ditangannya seperti memiliki kekuatan magis, apa saja mampu dia tulis, cerita ringan pun karya ilmiah yang dilombakan. Dia seolah memiliki segudang kata-kata yang tidak pernah habis sekalipun sering digunakan, seperti kisah sebutir padi di lumbung Dewi Sri.

Buku juga mampu membuat imajinya berputar liar, menembus segala pagar yang membatasi waktunya disaat ini ke masa lalu dan ke masa depan. Dia mampu membuat cerita dengan lancar, seperti mengisahkan cerita pengalaman.

Sungguh mengagumkan kekuatan itu.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: