Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Edi Kusumawati

Ibu dari dua orang putra yang bangga dengan profesinya sebagai ibu rumah tangga. Tulisan yang selengkapnya

Kartinian Itu….

OPINI | 21 April 2011 | 20:03 Dibaca: 152   Komentar: 14   1

Hari ini peringatan hari lahir ibu kita Kartini (seharusnya) dirayakan di seluruh pelosok negeri. Biasa anak-anak di sekolah selalu mengadakan kegiatan Kartinian, dimana murid-murid mengenakan pakaian daerah dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Tapi kenyataannya, sepanjang penglihatan saya koq suasana Kartinian sama sekali tak nampak di sekitar saya ya. Tadi saya tanya anak saya (baru kelas 5 SD), apakah hari ini ada upacara? Anak saya malah menjawab, “upacara apa Ma, kamis koq upacara?”. Saya sih maklum kalau di sekolah anak saya tidak diadakan “ritual Kartinian” itu, karena kebetulan anak saya sekolah di SDIT dimana semua murid perempuan seragamnya memakai jilbab sehingga tidak mungkin pula untuk disanggul. Tapi ketika saya lihat anak tetangga yang duduk di bangku SMP dan SMA umum, sama sekali juga tidak nampak kesibukan untuk ritual Kartinian di sekolahnya. Bahkan anaknya yang SMA (kelas 1) malah libur karena sekolahnya sedang dipakai untuk UAN kelas 3. Saya malah bertanya-tanya, jangan-jangan anak-anak sekolah jaman sekarang memang sudah mulai tidak dibiasakan untuk ber-Kartinian di sekolah ya? Entahlah…

Dulu jaman saya masih sekolah SD, setiap hari Kartini semua murid-murid wajid mengenakan pakaian daerah. Lucu juga kalau ingat masa itu. Murid perempuan pada berkebaya dan berkonde. Sementara murid laki-laki mengenakan surjan ataupun beskap. Saya juga masih ingat waktu itu setiap murid perempuan selalu dipasangkan dengan murid laki-laki, terus berjalan beriringan untuk selanjutnya dipilih pasangan mana yang pantas dianugerahi gelar Kartini-Kartono pada tahun itu. Pokoknya mirip pemilihan peragawan dan peragawati deh!! Tapi itu dulu… jaman saya SD, dimana pada masa itu saya masih belum bisa berontak dengan aturan sekolah yang mengharuskan murid perempuan untuk berkebaya pada hari Kartini. Padahal sesungguhnya kalau saya boleh memilih, saya akan memilih pakai seragam merah putih saja. Alasannya ya simpel saja, saya ini orangnya paling tidak suka ribet.

Nah ketika menginjak SMP, sepertinya ritual Kartinian itu mulai berkurang. Setidaknya di sekolah saya lho! Seingat saya waktu itu hanya petugas upacara atau beberapa orang saja yang ditunjuk mewakili kelas masing-masing untuk mengenakan pakaian daerah. Tentu saja saya juga akan memilih memakai seragam putih biru saya daripada pakai baju daerah. Kalau pakai baju seragam tidak boleh ikut upacara hari Kartini, ya saya pasti akan memilih nongkrong di kantin sekolah hehehe… Lumayan khan bisa sekalian sarapan karena biasanya saya memang tidak sempat sarapan. Lagipula mana mungkin saya pakai kebaya dan jarik (plus sanggulan dan selopan) terus ngejar-ngejar bis kota? Nggak mungkinlah! (Kebetulan waktu itu saya memang sering naik bis kota atau kadang-kadang juga naik sepeda kalau ke sekolah). Udah gitu saya dulu paling tidak suka pakai bedak, rasanya koq aneh gitu anak sekolah pakai bedak dan lipstik. Makanya banyak teman SMP dan SMA, bahkan teman kuliah saya yang heran melihat saya sekarang bisa juga tampil feminin begini hahaha…Suer!! Banyak lho yang bilang saya tambah cantik pakai kerudung seperti sekarang ini! Nggak seperti dulu, sudah rambut cepak, dekil pula hehehe…

Selanjutnya pas saya SMA, sepertinya ritual Kartinian malah tidak ada sama sekali. Biasanya cuma diisi dengan upacara tanpa harus memakai atribut baju daerah. Seandainya diwajibkan pakai baju daerah mungkin saya akan memilih bolos sekolah kali ya. Alasannya masih tetap sama, saya paling tidak suka yang ribet-ribet begitu. Mungkin semua itu karena pembawaan saya kali ya, maklumlah saya dulu lebih dilihat sebagai anak tomboy. Paling tidak bisa kalau disuruh tampil feminin begitu. Jangankan Kartinian, sekolah sehari-hari saja saya pakai sepatu kets daripada sepatu pantofel. Padahal di sekolah saya dulu (SMP terutama) kalau upacara hari senin, semua murid perempuan harus pakai sepatu pantofel. Karena paling tidak bisa pakai pantofel, saya biasanya membawa 2 sepatu (ribet juga sebenarnya ya!). Kalau pas upacara pakai pantofel, selesai upacara ya ganti sepatu kets. Kalau ketahuan guru ya ngeles-ngeles dikitlah. Khan aturannya pas upacara, bukan selesai upacara, begitu biasanya saya berkilah. Sekali dua kali ya dimarahi guru BP, tapi lama-lama kayaknya guru BP saya bosan juga menasehati saya. Saya masih ingat betul, dulu ada beberapa anak yang punya kelakuan seperti saya ini (Nurmala, Susi, Damaiyanti, Wilis how are you today? hehehe…)

Wah koq saya malah curhat ya? Ini semua khan gara-gara tadi pagi saya baca status Bunda Dian yang bunyinya begini :

“Ternyata lebih ya: lebih cantik, lebih seksi, lebih menggairahkan, dan lebih bikin ribet. Selamat Hari Kartini. Maju terus wanita Indonesia!”

Ya begitulah, menurut saya Kartinian dengan ritual berkebaya dan berkonde memang bikin ribet (kalau anak-anak TK sih kayaknya enjoy aja ya) Harus nyewa bajulah, harus ngantri salonlah, dan yang pasti ada “sedikit’ pengeluaran ekstra untuk itu. Tapi bukan karena saya tidak cinta kebaya lho! Sekarang saja koleksi kebaya saya sudah lumayan, ada kalau cuman 5 atau 6 stel. Tapi ya itu, saya makainya kalau pas mau ke kondangan saja hehehe….

Senada dengan hal itu mungkin ucapan teman saya Aning ada benarnya.

“Ingat pesan pipik ya nak…jangan mau dipakein topeng orang dewasa. percayalah, segala `make up` itu hanya akan mengubur kecantikanmu. Kali ini, sudah cukup bagimu memaknainya “hanya” dengan kebaya yang membuatmu tidak nyaman dan kegerahan itu.”

Jadi bagaimana anda memaknai hari Kartini saat ini, apakah cukup dengan ritual berkebaya dan berkonde saja? Hmmm…..

NB : Sumber gambar dari mbah google….

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Learning by Doing, Efektifitas Mendidik ala …

Muhammad | | 16 September 2014 | 10:24

Autoethnografi: Dari Pengalaman ke Teks …

Sehat Ihsan Shadiqi... | | 16 September 2014 | 11:06

Dua Teknologi Penyelamat Kehidupan Menulis …

Necholas David | | 16 September 2014 | 10:03

Jika (Calon) Istri Menyembunyikan Status …

Syaiful W. Harahap | | 16 September 2014 | 08:57

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 4 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 6 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 6 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

[Fiksi Fantasi] Sayap Hitam Angella …

Desy Desol | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi: Yang Barunya Mana, Ya? …

Aqila Muhammad | 8 jam lalu

Aktor di Balik Alotnya Pengusutan Kasus …

Bagja Siregar | 8 jam lalu

Tentang Palu Pemecah Kaca yang Kehilangan …

Ayudhia Virga Basta... | 8 jam lalu

Liverpool, Catatan Minor Pekan ke 4 dan …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: