
Salah satu dari bermilyar-milyar manusia yang ada di dunia ini yang terus berusaha menyeimbangkan segala sesuatu, terus berbuat baik dan punya impian untuk jadi "kutu loncat" dunia. Amiinn :) Jangan lupa utk mampir dan follow http://juztiwi.blogspot.com/, http://creativesistaz.blogspot.com dan http://bagibagibahasa.blogspot.com/. Terima kasih :)
Dibaca: 264
Komentar: 4
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Sumber gambar: http://ieatfashion.blogdetik.com/files/2010/01/love.jpg
“Iya, aku sempat jalan sama dia,” aku berucap dengan nada gemetar.
PLAKK!!!
Beberapa detik kemudian, terasa adanya sengatan panas yang menjalar ke seluruh pipi kiriku. Mungkin tangan kanannya, tangan yang biasa menggenggam dan melindungiku, ketika senang dan susah, tangan yang seharusnya tidak akan pernah menyakitiku, juga panas setelah menamparku. Aku tak tahu pasti. Aku memang salah. Di saat kami berdua seharusnya berinstropeksi diri terhadap hubungan kami, aku diam-diam pergi dengan lelaki lain. Dia mengetahuinya. Saat itu, saat di mana panasnya tamparan masih terasa, aku menghukum diriku sendiri. Aku meminta maaf sejadi-jadinya. Tetapi, tidak terbersit dalam pikiranku, apakah ini cinta yang sebenarnya?
Cinta. Hal yang tak akan lekang oleh waktu. Tak akan habis untuk dibicarakan dan dipelajari. Satu hal yang menggerakkan dunia ini. Bombardir media dan informasi memberitahu sekaligus mendikte bahwa cinta sejati adalah penerimaan menyeluruh dari kelebihan dan kekurangan pasangan. Pengertian dan kompromi adalah jalan tengah agar tiap pasangan dapat terus maju dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Dengan segenap kasih sayang, aku telah menerima semuanya. Walau banyak hal manis telah kami lalui, hubungan kami sarat kekangan dan ketidakpercayaan. Setiap masalah diledakkan dengan sulutan emosi meskipun diakhiri dengan canda tawa ketika telah tercapai titik terangnya. Namun, yang terakhir, berakhir dengan sebuah tamparan. Dulu kala, aku pernah berjanji, kalau ada lelaki yang berani melakukan tindak kekerasan apapun terhadapku, aku akan saat itu juga meninggalkannya. Ucapan hanyalah ucapan, janji hanyalah janji. Toh, akupun kembali padanya. Bukankah cinta itu memaafkan dan menerima apa adanya?
“If a man hits you once, he will hit you again (kalau seorang pria menampar atau menyakitimu, dia akan menyakitimu lagi).” Begitu dengan tegas Oprah Winfrey bertutur di acaranya yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini. Aku terhenyak mendengarnya. Apakah dia akan melakukannya lagi? Hubungan kami tidak jauh berbeda dari waktu sebelum insiden itu. Kadang dia masih melarangku pergi dengan teman-temanku. Akupun jadi ikut membatasi pergaulannya dengan teman perempuan-perempuannya. Ternyata, alam bawah sadarku masih ketakutan. Aku masih takut padanya.
Aku tumbuh dalam keluarga yang tidak menekankan kekerasan bahkan dalam perihal disiplin. Ayahku tidak pernah berteriak, selalu memecahkan persoalan dengan kepala dingin. Ibuku adalah pendukung dan pendengar setia keluarga. Walau kadang mengingatkan kami, anak-anaknya, dengan nada tinggi. Wajarlah apabila Ibu sering ‘cerewet.’ Beliau hanya mengkhawatirkan kami. Walau Ayah dan Ibu bertengkar hebat sekalipun, mereka tidak pernah sampai saling berteriak atau bahkan sampai saling menghina. Aku kelak ingin membentuk keluarga kecil seperti keluarga kami. Memberi nilai-nilai positif tentang cinta kasih dan kebersamaan kepada anak-anakku kelak. Aku ingin adanya ketentraman dan kedamaian. Ternyata apa yang aku inginkan sekaligus butuhkan berbeda dengan apa yang aku miliki dari hubunganku dengannya. Aku mulai berpikir lagi tentang hubungan kami. Dan, tentang makna cinta sejati.
Di musim penghujan beberapa tahun yang lalu, karena salah mengirim sms yang seharusnya untuk teman dekat pria saya, dia memutus hubungan kita dengan alasan dia tidak ingin diduakan lagi. Aku sempat terguncang. Begitu mudahnya hubungan yang sudah kami jalani bertahun-tahun dia akhiri begitu saja. Kami sering putus-nyambung, dan selalu dia yang memutuskan. Namun, untuk yang kali ini, aku terima keputusan tersebut dan walaupun dia meminta untuk menjalin hubungan lagi, aku menolak.
Bukan, cinta tidak seperti ini. Cinta tidak membuat ketakutan. Cinta tidak mengekang. Cinta tidak MENYAKITI. Cinta tidak melegalkan segala bentuk kekerasan. Cinta memang sepatutnya menerima segala sesuatu. Tetapi, haruskah kita menerima semuanya? MENERIMA KETIKA KITA DISAKITI? Aku memilih tidak. Karena, aku ingin keluarga kecil yang saling menentramkan bukan yang penuh dengan kekerasan, baik secara psikis maupun fisik.
Untuk para wanita di seluruh negeri ini, percayalah, apapun yang telah kita alami, kita PANTAS mendapatkan yang TERBAIK. Kita pantas mendapatkan seseorang yang baik. Seseorang yang lembut dan mempercayai kita. Seseorang yang dengan tulus dan tanpa lelah akan senantiasa mendukung dan meyakini kemampuan kita alih-alih meremehkan kita. Pilihlah pasangan Anda dengan arif dan bijak. Tidak semua harus Anda TERIMA. Anda punya hak untuk MENOLAK. Tegaslah. Manusia dikaruniai kebebasan memilih bukan? :)
Cinta sejati adalah yang memberi ketentraman dan kedamaian. Cinta yang menenangkanlah yang sebenar-benarnya memberikan hidup yang membahagiakan. Pilihlah yang baik, karena yang baik itu pasti membaikkan. Jalan menuju hidup yang baik, melalui cinta, ada di tangan Anda. :)
*based on a true story