Artikel

Catatan

Anazkia

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Berbagi buku, menebar ilmu dalam program blogger hibah sejuta buku. #HibahBuku #Blogger #TKW di Malaysia #KoplakYoBand #MiringUnite · http://www.anazkia.com

Surat Kepada Pak Marzuki Ali


OPINI | 26 February 2011 | 18:21 Dibaca: 1130   Komentar: 80   2 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif

Pak Marzuki, perkenalkan, saya seorang TKW, atau tepatnya PRT di negara tetangga, Malaysia :)

Membaca tulisan di detik.com dengan judul, Marzuki Alie: TKW PRT Buat Citra Indonesia Buruk “ membuat saya tersenyum. Antara seneng dan sedikit tersinggung. Senengnya, Pak Marzuki Alie ternyata begitu peka memahami masalah ini. Sedikit tersinggungnya, yah karena saya profesinya pembantu rumah tangga, jadi kesannya saya juga sudah merusak citra bangsa Indonesia di mata dunia. Karena kebetulan saya juga TKW.

Apa yang diungkapkan oleh Pak Marzuki Alie, ada yang saya betulkan. Ya, memang banyak para TKW (khususnya yang PRT) begitu rendah kualitasnya, begitu kurang ilmu pengetahuannya. Tapi, cara bapak menyampaikan sungguh sangat kurang berkenan ketika saya membacanya. Bapak seolah-olah begitu memojokan kami, para TKW yang berprofesi sebagai PRT. Alangkah lebih indahnya, ketika kalimat-kalimat seperti itu disampaikan dengan lebih santun dan bijak. Di mana tidak begitu merendahkan kami, para PRT.

Saya nggak marah, Pak, beneran. Saya juga merasakan hal itu kok. Pernah, suatu hari ketika saya baru mendarat di bandara LCCT-Sepang, beberapa wanita setengah baya dan beberapa tahun lebih tua dari saya mendekati saya. Mereka meminta mengisikan formulir kedatangan, karena mereka, tak pandai tulis dan baca. Jadi, bukankah itu salah satu label keterbelakangan kami, Pak? Jadi saya nggak marah dengan kalimat bapak.

Hanya saja, saya kembali berpikir, dengan kalimat yang ditulis di sebuah media online tersebut, ini kalimatnya, Pak “Ada yang tidak bisa membedakan cairan setrika. Akhirnya menggosok baju seenaknya. Makanya majikannya marah. Wajar saja itu setrika menempel di tubuh pembantu,” kisah Marzuki. Ah, bapak, kenapa menggunakan kalimat seperti itu? Atau hanya media online tersebut yang salah menukil kalimat, bapak? Dalam kalimat tersebut, seolah menghalalkan penganiayaan para PRT oleh majikannya karena ketidak tahuan PRT. Apapun bentuknya, sebuah kesalahan dan ketidak tahuan PRT tak menjadi alasan untuk menghalalkan penyiksaan kepada PRT. Ada lho, Pak, yang PRT baik, tapi tetep kena siksa, dera aniaya juga perkosa.


Beberapa tahun lalu, Saya pernah menulis sebuah postingan di blog, dengan judul, “Rendahnya Kualitas Pembantu Indonesia di Malaysia” (saya juga kembali posting di kompasiana, silakan klik linknya kalau bapak berkenan). Saya mendapat komentar dari salah seorang mahasiswa di Jakarta, “kalau saya kira kaitan antara kekerasan terhadap TKW di sana itu bukan karena kualitasnya yang rendah. Toh kalau kualitas rendah mengapa tetap dipakai? kan bisa dikembalikan kepada penyalur dan protes kepada penyalur, bukan dengan cara disiksa. Masalah kualitas dengan masalah kekerasan itu masing-masing memiliki lapaknya sendiri. Kalau kualitas TKW dari Indonesia rendah saya belum bisa berkomentar karena belum ada penelitian objektif tentang itu. Kan 1 atau 3 orang yang memiliki kriteria yang sama belum tentu mewakili sebagai kesimpulan.”


Membaca komentar teman saya di blog, ada benarnya juga. Kenapa tidak dikembalikan saja? Kenapa meski ada penganiayaan bertahun-tahun?

Cadangan bapak untuk memberhentikan pengiriman PRT ke berbagai negara saya sangat mendukung, Pak. Tapi, juga harus ada solusinya. Kalau membicarakan menghentikan saja memang mudah, tapi setelah itu, adakah lapangan kerja untuk kami. Bukankah kami juga (katanya) kami juga penghasil devisa negara terbesar pertama? Dengan slogan yang amat menyebalkan buat saya, “Pahlawan Devisa”


Jadi, bapak, ini adalah PR kita bersama. PR saya, sebagai salah seorang PRT, yang mengemban tugas diplomat tak resmi atas nama anak bangsa di negara orang, juga PR bagi semua lapisan masyarakat yang berada di Indonesia, baik pemerintah, agen, PJTKI dan calon PRT sendiri. Tak semua PRT di luar negeri membawa citra buruk untuk bangsa, Pak. Mungkin ketika sebelum berangkat kami dibekali dengan segala rupa pengalaman, tentunya, saya sangat berharap tiada lagi tindak kekerasan dari majikan kepada PRTnya.

Sekian dan terimakasih

Mohon maaf jikalau ada kesalahan kalimat

Tertanda, Anazkia, seorang TKW, PRT di Malaysia.

NB, owh, ya, saya membaca postingan Om Jay tentang pertemuannya dengan bapak, saya suka kalimat terakhir yang ditulis oleh Om Jay, “Beliau juga meminta agar pernyataannya jangan dituliskan sepotong-sepotong agar tak menimbulkan multi tafsir. Tolong disampaikan secara lengkap dan apa adanya.”

Semoga ada konfirmasi dari bapak, tentang tulisan di mdeia online berkenaan.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: