Back to Kompasiana
Artikel

Catatan

Maria G Soemitro

"Jika kita bukan bagian dari solusi, maka kita adalah bagian dari masalah" -Eldridge Cleve-

Berjilbab, dan Sayapun Mengerti Mengapa Najwa Shihab Tidak Memakainya

OPINI | 11 November 2010 | 19:43 Dibaca: 15342   Komentar: 60   13

1289504090182541962

doc.google

Saya selalu mempercayai proses, karena hasil dari suatu proses adalah awal proses berikutnya sehingga proses awal haruslah baik dan benar.
Contohnya kelahiran seorang anak, betulkah dia akhir suatu proses perjuangan seorang ibu ? Jelas tidak, karena awal pendidikan anak baru dimulai.

Jadi ketika seseorang menggunakan jilbab, haruslah dia lebih kaffah lagi karena sebelum  seseorang memutuskan berjilbab pastiilah dia melalui suatu proses yang panjang.

Awal saya memakai jilbabpun melalui proses panjang. Semula saya tidak mengerti, kenapa sih orang harus berjilbab ? Kenapa harus ikut-ikutan orang Arab ? Apa nggak panas dan keringetan ? Apa ngga ribet, apalagi kalau orang tersebut harus naik angkutan umum ? Kebingungan saya bertambah sewaktu guru mengaji saya yang sudah sepuh namun lugu berkata : “Neng, Neng teh harus tutup rambut pake kerudung karena rambut itu aurat”. Ha ? Rambut adalah aurat ? Di sepanjang umur saya yang 34 tahun (waktu itu), saya baru mendengar penjelasan bahwa rambut adalah aurat. Sehingga tentu saja sewaktu beliau menasehati panjang x lebar, reaksi saya hanya dengar kiri keluar kanan.

Jadi setiap ke pengajian saya hanya berbekal baju lengan panjang dan ubel-ubel pashmina. Kenapa ubel-ubel ? Karena ribet banget, melorot lagi melorot lagi, sehingga saya ubel-ubel sekeliling leher dan begitu tausiah ulama selesai saya cepat-cepat mencopotnya dan menjejalkan ke tas tangan.
(Pashmina  : Semacam kain selendang kira-kira berukuran 70 cm x 175 cm buatan India )

Perubahan perlahan terjadi ketika saya melihat teman-teman majelis taklim berubah menjadi keren dan elegan ketika berbusana muslim. Kerudungnya rapi-rapi, tidak nampak sehelai rambut keluar mengintip dari kerudung berpeniti rapi itu. Sungguh saya takjub karena sehari-hari mereka biasa berbusana t-shirt dan jeans, berambut pendek dan berkeringat karena harus nyetir sendiri untuk mengantar anak sekolah, les dan belanja. Bahkan ada beberapa dari mereka  yang wara-wiri menggunakan tank-top dengan rambut ala Barbie yang bergelombang dan dicat warna-warni.

Ingin mencoba, itulah awalnya. Selain itu  tertantang melihat beberapa teman semajelis taklim yang rumahnya relatif lebih jauh dari tempat pengajian tetapi kok sanggup berdandan seapik itu.
Hingga ketika tiba pengajian bulan berikutnya, saya memaksakan diri berbelanja busana muslim yang murah tapi enak dipakai di suatu toserba dekat rumah. Alasannya kalau ternyata saya nggak suka, ya nggak terlalu menyesal.  Kerudung, peniti dan penjepit kerudungnyapun saya beli disitu.  Beruntung pegawai toserba mau membantu, bahkan dia menjadi tutor berkerudung cekek (mengambil istilah bapak Prof. Dr. Aam Amirudin yang mengomentari gaya kerudung diikat ketat di leher ), karena gaya kerudung itulah yang sedang ngetrend waktu itu.

Berpenampilan baru ternyata membuat saya deg-degan seolah berbaju baru di hari Raya. Apakah hasilnya nampak keren dan elegan? Sayang sekali tidak! Apalagi  hasil  berfoto dengan seorang teman menunjukkan ciput (penahan rambut ketika berkerudung) ternyata balap lari dengan kerudung dan rambut. Waw…….  foto itu langsung saya gunting tepat dibagian saya berada.

Tetapi anehnya saya kok merasa nyaman.  Memang agak gerah, tapi tanpa berjilbabpun kita sering gerah bukan. Rasa nyaman itu yang ingin saya rasakan lagi, jadi saya mulai membongkar lemari, mencari baju yang layak disebut baju muslim dan menjahit beberapa potong busana muslim pada penjahit langganan. Sayang waktunya bertepatan menjelang Ramadhan sehingga saya pun gigit jari.

Keesokan harinya karena sudah memantapkan diri, saya menjemput  sibungsu pulang sekolah  dengan berbusana muslim lengkap. Wahhhh….baru terasa lamanya menggunakan kerudung, dan duh rasanya tersiksa sekali karena supaya rapi saya mengikat kerudung disekitar leher dengan erat. Itupun saya yakin jauh dari sempurna.

Ternyata teman-teman lain yang kebetulan berjilbab bereaksi melihat saya berjilbab, sayapun tersadar mengapa mereka no comment ketika di pengajian kemarin, mungkin mereka pikir , ach cuma temporer, pasti besok kembali ke busana nonmuslim.

“Aduh Maria, kamu cantik. Gini deh kerudungnya dijepit kaya gini, bla bla bla……..
Sungguh saya terharu dan merasa berterima kasih dengan sikap mereka, tidak terbayangkan apabila mereka berkata :

“Na gitu dong, muslimah itu harus berjilbab.” Kalimat pendek ini pastinya bakal menikam bak sembilu, walaupun diucapkan dengan nada main-main.
Sambutan aneh justru saya dapat dari teman yang belum berjilbab : “Sekarang ngajinya yang rajin dong, kan udah berjilbab.”

Komentar yang saya abaikan karena apa gunanya ? Toh saya yang menjalani. Toh saya sudah mengantungi tiket paket Kajian Islam Intensif yang diajar  langsung oleh Prof. Dr. Aam Amirudin, beliau selalu memberi solusi-solusi yang arif dan menenangkan.

Misalnya, kasus kerudung cekek yang dikenakan ibu-ibu berbusana muslim sekitar 5 tahun yang lalu, pak Aam berkomentar : “Biarlah nanti juga berubah, bagaimanapun harus disyukuri bahwa ibu-ibu sudah berbusana muslim.”
Komentar yang terbukti kebenarannya, karena gaya kerudung seperti itu sekarang sudah langka alias ketinggalan jaman.

Kasus lain adalah gaya anak-anak muda berjilbab, kerudungnya tidak diikat erat seperti kami. Hanya berpeniti di dada dan dibiarkan menjuntai.  Kadang tertiup angin kebelakang. Keren sekali. Apalagi mereka masih langsing-langsing, mengenakan celana jeans ketat yang kala itu melorot dipinggang dan cardigan bewarna cerah yang lembut menutup tubuh mereka. Sayang, setiap mereka turun dari angkutan umum, celana jeans mereka tertarik kebawah dan (maaf) terlihatlah belahan pantat terkadang celana dalam walaupun mereka sudah berusaha menutupnya.

Apa komentar pak Aam mengenai fenomena ini ? Tetap menyejukkan !
“Biarkan dulu, selalulah bersyukur untuk setiap langkah awal. Bagaimana mungkin anak-anak akan menurut kalau kita otoriter dengan mengatakan cara berbusananya salah. Karena menurut mereka, orang tua tuh jadul. Kiblat busana mereka adalah teman-temannya. Jangan harap mereka berbusana seperti ibunya”

Komentar yang menimbulkan derai tawa sekaligus jitu, karena seiring berlalunya mode celana jeans melorot kebawah, anak-anak muda kembali berbusana normal, memenuhi kaidah estetika dan etika.  Beberapa masih ada yang pas badan tapi tidak terlalu ketat hingga menimbulkan pandangan menggoda dan siutan nakal.

Komunikasi , itu kata kuncinya. Komunikasi yang sehat, karena bagaimana mungkin mereka akan menurut apabila kita memotret pantat mereka ketika turun dari angkutan umum dan mempublikasikannya kemudian berkata itu salah, bla, bla, bla……..

“Siapa sih lo, sok suci ! Yang mau masuk surga kan gue, kenapa urusan banget !” semacam itulah pasti jawaban mereka.

Hingga detik ini anak perempuan saya belum berjilbab, dan saya sadar, baru 5 tahun saya berjilbab, itupun belum sempurna. Bagaimana mungkin saya mengharap lebih ? Apa jawaban saya apabila dia bertanya : “ Mengapa mama menyuruh saya berjilbab ? Supaya mama masuk surga ?”

Mungkin pertanyaan itu tak terucap, mungkin hanya didalam hati. Tetapi pertanyaan yang wajar.  Bukankah  kita sering melakukan amal ibadah dengan berpengharapan pahala ? Kita menegur orang yang berbuat salah dengan dasar :
Berbuatlah yang terbaik menurut agamamu. Cegahlah perbuatan yang salah itu :
1. dengan tindakan
2. dengan perkataan
3. Mencegahnya dari dalam hati (selemah-lemahnya iman)

Tidak ada yang salah dengan tindakan. Tidak ada yang salah dengan perkataan, bahkan andai hanya mencegah dalam hati. Pamrih yang berupa pahalalah yang menyesatkan hingga seseorang hantamkromo. Padahal junjungan kita, Nabi Muhammad saw banyak memberi teladan bagaimana seharusnya bersikap. Bahwa komunikasi yang sehat dan berkualitaslah yang harus dikedepankan.

Sehingga ketika kita melihat Najwa Shihab tidak berjilbab padahal dia  putri seorang pakar tafsir Al Quran, Prof.Dr. Quraish Shihab, harusnya kita menghormati dan menghargai.
Najwa Shihab pasti punya alasan tertentu, tetapi bukan berarti dia tak berbakti.
Prof.Dr.Quraish Shihab pun pasti punya alasan, mengapa dia menghargai pendapat anaknya untuk tidak berjilbab seperti Sandrina Malakiano yang memilih berjilbab dan mundur dari Metro TV.
Bukan hak kita untuk menilai dan menghakimi bahkan apabila kita manusia suci yang mendapat garansi masuk surga.

Tetapi saya meyakini satu hal, Prof. Dr. Quraish Shihab sangat menyayangi anaknya sehingga  pasti sudah menyampaikan pesan Al Quran dengan tindakan, ucapan atau hanya dalam hati. Tetapi beliau mempercayai  proses. Percuma saja Najwa Shihab berjilbab tapi tidak ikhlas. Percuma saja Najwa Shihab berjilbab bertumpuk-tumpuk tetapi tanpa esensi. Perjalanan menuju  muslim yang kaffah itulah yang terpenting. Perjalanan yang memerlukan proses.

Mengapa saya begitu yakin pada proses ? Karena percaya atau tidak, walaupun saya mengikuti begitu banyak pengajian dan hampir tiap pagi mendengar ceramah pagi Prof.Dr. Aam Amirudin, Aa Gym atau Prof. Dr. Miftah Faridl. Tetapi setahun sesudah berjilbab saya baru tahu bahwa mengenakan jilbab itu wajib dan tercantum dalam Al Quran (Qs. An-Nur (24) :31 ) dan (Qs. Al-Ahab (33) :59). Itupun terjadi pada peragaan busana muslim dimana  sang perancang  Enny Kosasih membagikan foto-copy kedua surat tersebut. Sambil memohon maaf apabila ada yang tidak berkenan. Suatu tindakan manis.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tim Indonesia Meraih Emas dalam Taste of …

Ony Jamhari | | 20 September 2014 | 13:35

Pendaftar PNS 1,46 juta, Indonesia Minim …

Muhammad | | 20 September 2014 | 12:59

Dari Melipat Kertas Bekas Bergerilya Berbagi …

Singgih Swasono | | 20 September 2014 | 17:28

Di Pantai Ini Tentara Kubilai Khan Mendarat! …

Mawan Sidarta | | 20 September 2014 | 13:30

Beli Bahan Bakar Berhadiah Jalan-jalan ke …

Advertorial | | 20 September 2014 | 07:12


TRENDING ARTICLES

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 6 jam lalu

Kalau Tidak Mau Dirujuk, BPJS-nya Besok …

Posma Siahaan | 10 jam lalu

Jokowi Pernah Disumbang Tahir, Kenapa TNI …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu

Heboh!Foto Bugil Siswi SMP Di Jakarta …

Adi Supriadi | 14 jam lalu

Kisah Perkawinan Malaikat dan Syaiton …

Sri Mulyono | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

i-Road, “Bajaj” Masa Depan! …

Angga Saputra | 7 jam lalu

Kompasiana - Yamaha Nangkring Heboh …

Rahmat Hadi | 8 jam lalu

Karya Putri Indonesia Dihargai di Singapura …

Arief Gun | 8 jam lalu

Nurdin, Ridwan, Risma, Digilir Saja …

Awaluddin Jamal | 9 jam lalu

Klarifikasi dan Permohonan Maaf …

Mohammad Ali Yafi | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: